Potensi Penguatan Rupiah Menuju Rp 17.688 Lewat Grafik Mingguan

Potensi Penguatan Rupiah Menuju Rp 17.688 (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 21 Juli 2026 | 10:47:35 WIB

JAKARTA - Nilai tukar rupiah mampu terangkat menuju bawah tingkat psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring menurunnya indeks dolar dunia, kendati laju peningkatannya cenderung terhalang oleh deretan sentimen domestik dan tingginya ancaman eksternal.

Melihat angka Bloomberg pada Jumat (17/7/2026), mata uang dalam negeri di pasar spot ditutup naik 0,36% ke posisi Rp 17.921 per dolar AS.

Sementara itu, catatan Trading Economics memperlihatkan mata uang Garuda melangkah di tingkat Rp17.946 per dolar AS, atau naik sekitar 0,74% sepanjang sepekan belakangan.

Melandainya mata uang Paman Sam tersebut terbukti oleh pergerakan indeks dolar AS (DXY) di platform Trading Economics yang melorot ke angka 100,765.

Sementara acuan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia ikut menandakan kenaikan rupiah menuju Rp 17.944 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya yang sempat tertahan di Rp 18.041 per dolar AS.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menerangkan kalau melandainya inflasi AS memberikan peluang pelonggaran kebijakan Federal Reserve, hingga menjadi pendorong positif buat penguatan nilai tukar pasar berkembang bagai rupiah.

Walaupun demikian, modal penurunan dolar global tersebut dinilai belum menjadi jaminan pasti lantaran posisi Rp 18.000 lebih merupakan batas psikologis ketimbang fundamental.

Pelaku pasar juga menganggap daya dorong eksternal itu belum terhitung kuat untuk membuat mata uang domestik menembus ke bawah Rp17.500 dalam rentang waktu dekat sebab membutuhkan ketetapan jangka panjang.

"Pelemahan dolar AS memang menjadi katalis positif, namun belum cukup menjadi jaminan apabila masih ada tekanan seperti keluarnya arus modal asing (capital outflow), ketidakpastian geopolitik, atau pelemahan ekspor Indonesia," kata Geraldo dari Sumbernya, Jumat (17/7/2026).

Sebab itu, gejolak politik geopolitik dunia bagai bentrokan AS–Iran yang rentan menaikkan harga minyak bumi dunia diwanti-wanti dapat membatasi ruang penguatan rupiah secara mendadak.

Untuk membentengi nilai tukar dari gejolak tersebut, Bank Indonesia dan pemerintah didorong guna terus memperkuat posisi simpanan devisa serta mengoptimalkan langkah penanganan terukur di pasar valas maupun obligasi.

Menghadapi kuartal III-2026, peluang pergerakan mata uang Garuda secara fundamental bakal sangat dipengaruhi oleh konsistensi pelonggaran moneter The Fed serta daya neraca eksternal Indonesia.

"Apabila konflik AS–Iran mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, penguatan rupiah bisa menjadi lebih terbatas meskipun dolar sedang melemah," ujar Geraldo.

Menurut Geraldo, secara teknikal murni di Time Frame Weekly, rupiah membentuk pola double top dan bearish engulfing yang berpeluang membawanya menguat menguji rasio tingkat harga Fibonacci 61,8% hingga 100% di kisaran proyeksi Rp 17.856 sampai Rp 17.688 per dolar AS.

Reporter: Moch Febrianto