S&P Tegaskan Peringkat Indonesia, Pasar Saham Respons Sinyal Positif

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 21 Juli 2026 | 10:47:23 WIB

JAKARTA - Pasar modal Indonesia menutup masa perdagangan pekan ketiga Juli 2026 dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,10% menuju level 6.175, meningkat 250 poin bila dibandingkan penutupan minggu sebelumnya di posisi 5.924.

Meskipun demikian, pemodal asing mencatat aksi jual bersih pada pasar ekuitas senilai USD11 juta dalam rentang sepekan terakhir.

Ulasan mingguan dari Sumbernya mencatat beberapa poin kunci sepanjang pekan ini, antara lain;

Apa yang terjadi dalam sepekan terakhir?

Sektor yang mencatatkan performa terbaik minggu ini yaitu Bahan Baku serta Konsumer Siklikal, yang masing-masing mengalami penguatan 5,47% dan 5,32%.

Aset bernilai paling unggul sepanjang pekan ini ialah harga minyak mentah yang melambung 12,29% beserta Indeks LQ45 yang terangkat 5,54%.

Di sudut lain, Indeks Nikkei melemah 6,44% serta Indeks Shanghai Composite terperosok 5,81%.

Di Amerika Serikat, laju inflasi Juni kemarin mereda melebihi estimasi, dengan inflasi umum (headline CPI) melambat menjadi 3,5% secara tahunan (YoY) dari 4,2%, sedangkan inflasi inti (core inflation) ikut menurun menjadi 2,6% dari 2,9%.

Kemunduran Producer Price Index (PPI) sebesar 0,3% secara bulanan (MoM) kian mempertegas indikasi bahwa tekanan harga mulai melunak, sehingga meredam dorongan bagi The Federal Reserve (The Fed) guna memperketat kembali kebijakan moneter mereka dalam kurun waktu dekat.

Di waktu bersamaan, Bank of Canada mempertahankan tingkat suku bunga acuan mereka pada level 2,25%, sesuai perkiraan pasar, yang menandakan para pembuat kebijakan masih menerapkan strategi wait and see.

Defisit neraca perdagangan area Euro membengkak tajam menuju EUR7,8 miliar, jauh lebih buruk dibanding proyeksi defisit EUR1,6 miliar, yang memperlihatkan sektor eksternal masih menghadapi tekanan.

Output manufaktur juga tergerus 1,2% YoY, lebih lemah ketimbang estimasi, menandai momentum industri manufaktur masih belum bergairah dan pemulihan ekonomi wilayah tersebut bertahan rapuh.

Produk domestik bruto (PDB) Inggris tumbuh 0,1% MoM pada bulan Mei, sesuai ekspektasi serta membaik bila dibandingkan penurunan pada bulan sebelumnya.

Surplus transaksi berjalan Jerman menyusut ke angka EUR10,4 miliar, lebih rendah dari perkiraan serta merosot dari EUR16,6 miliar, yang mengindikasikan melemahnya permintaan luar negeri atau meningkatnya beban impor.

Di wilayah Asia, laju pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada triwulan II melambat menjadi 4,3% YoY, berada di bawah estimasi serta turun dibanding 5,0%, sehingga memperbesar kekhawatiran bahwa pemulihan ekonomi mulai kehilangan daya dorong.

Namun demikian, output manufaktur merangkak naik 5,3% YoY, melampaui proyeksi, yang menunjukkan aktivitas industri masih tergolong tangguh walaupun ekspansi ekonomi secara keseluruhan melambat.

Sementara itu, pertumbuhan penanaman modal asing langsung Indonesia melesat menjadi 27,4% YoY di kuartal II dari 8,5%, menggambarkan kian tingginya komitmen penanam modal dan menopang prospek investasi jangka menengah.

Inflasi mereda dan ekspektasi suku bunga semakin moderat

Dari Sumbernya menilai, pekan ini menyajikan salah satu pergeseran narasi pasar paling krusial sepanjang tahun.

Pada mulanya, atensi pelaku pasar tertuju pada kembali memanasnya perselisihan AS-Iran yang memicu lonjakan harga minyak.

"Namun, pada akhirnya satu data ekonomi berhasil mengubah arah pandangan pasar. Data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan menggeser fokus dari potensi kenaikan suku bunga menuju kemungkinan penurunan suku bunga di masa mendatang," ungkap dari Sumbernya.

Rilis laporan inflasi AS pada Selasa lalu memperlihatkan headline CPI merosot 0,4% secara bulanan (MoM), penurunan bulanan paling dalam sejak April 2020.

Keluarnya data tersebut menurunkan inflasi tahunan menjadi 3,5% dari 4,2% di bulan Mei serta jauh di bawah konsensus 3,8%.

"Yang lebih penting, core CPI tidak mengalami kenaikan (flat) sehingga inflasi inti tahunan turun menjadi 2,6% dari 2,9%," imbuh dari Sumbernya.

Bagian terbesar dari penurunan tekanan inflasi bersumber dari komponen energi yang kembali normal setelah lonjakan akibat gejolak geopolitik sebelumnya.

Informasi ini secara signifikan merombak ekspektasi pasar dalam jangka pendek.

Sebelum keluarnya data, pasar memperhitungkan peluang sekitar 43% bahwa The Fed bakal kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan FOMC Juli.

Pasca data diumumkan, probabilitas tersebut merosot hingga menyisakan 16%.

Walau demikian, menurut dari Sumbernya, pihak The Fed tampaknya akan tetap bersikap waspada lantaran satu rilis data belum memadai untuk membentuk pergerakan tren.

Kendati begitu, ekspektasi pasar saat ini telah bergeser dari pertanyaan mengenai seberapa cepat suku bunga bakal terangkat menjadi kapan kebijakan moneter mulai dilonggarkan.

"Pasar masih menunggu kejelasan mengenai arah inflasi dalam beberapa bulan mendatang, terutama karena harga energi masih sangat berfluktuasi akibat ketegangan geopolitik yang berlanjut," tulis dari Sumbernya.

Di samping itu, dari Sumbernya memandang bahwa fokus utama domestik yaitu penetapan S&P Global Ratings pada 13 Juli yang kembali mengukuhkan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia pada level BBB/A-2 berprospek stabil.

Apabila dibandingkan Moody's dan Fitch yang sebelumnya menyunting prospek Indonesia menjadi negatif pada tahun ini, ketetapan S&P menjadi dorongan positif bagi keyakinan penanam modal.

S&P menilai Indonesia mempunyai rekam jejak kedisiplinan fiskal yang solid serta memperlihatkan komitmen pemerintah dalam merealisasikan efisiensi pengeluaran, termasuk pemangkasan sekitar sepertiga anggaran program makan gratis.

S&P turut secara tegas menunjuk batas defisit anggaran 3% terhadap PDB sebagai penopang utama yang mendukung prospek stabil, kendati memproyeksikan defisit transaksi berjalan bakal melebar hingga sekitar 2,1% terhadap PDB.

Sepanjang pekan ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) turut mempublikasikan daftar saham yang lebih luas guna dimasukkan dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC) sebagai bagian dari langkah menggenjot transparansi dan daya tarik investasi pasar modal Indonesia.

Upaya ini dipandang sebagai sinyal positif bahwa pihak regulator konsisten menyempurnakan aturan, sementara para pelaku pasar menantikan kelanjutan dari MSCI pada peninjauan indeks bulan November.

Secara keseluruhan, dari Sumbernya menilai, tema utama pasar pekan ini bukan lagi geopolitik, melainkan pergeseran narasi terkait inflasi dan suku bunga.

Satu data inflasi yang berada di bawah estimasi telah menggeser pembahasan global dari potensi pengetatan kebijakan menuju peluang pelonggaran, sehingga meredakan tekanan terhadap imbal hasil obligasi, mata uang dolar AS, serta aset-aset di negara berkembang.

Untuk Indonesia, pengukuhan peringkat dari S&P menjadi sinyal positif usai iklim pasar yang cukup berat pada paruh pertama tahun ini.

Menurut dari Sumbernya, kurva imbal hasil surat utang negara Indonesia masih tergolong landai dan berada di kisaran yang tinggi, sehingga tetap menyajikan momentum masuk investasi yang menarik, terutama untuk tenor pendek hingga menengah.

"Sementara itu, obligasi tenor panjang berpotensi memberikan keuntungan lebih besar apabila imbal hasil obligasi AS terus turun, nilai tukar rupiah semakin stabil, dan kredibilitas fiskal semakin menguat," sebut dari Sumbernya.

Di pasar saham, konsentrasi tetap diarahkan pada saham-saham berlikuiditas tinggi, memiliki keterbukaan yang baik, dan berfundamental kokoh.

"Faktor utama yang masih perlu dicermati adalah perkembangan ketegangan geopolitik, khususnya kelancaran arus pengiriman melalui Selat Hormuz, serta data-data makroekonomi berikutnya yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan The Fed pada rapat FOMC akhir bulan ini." (dari Sumbernya)

Reporter: Moch Febrianto