Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah ke Rp18.150 Per Dolar AS
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah pada rentang Rp18.100 hingga Rp18.150 per dolar AS dalam perdagangan hari ini, Selasa (14/7/2026).
Merujuk data analisis Doo Financial Futures, pergerakan rupiah pada penutupan perdagangan Senin (13/7) mengalami penurunan sebesar 0,24% atau merosot 44 poin ke posisi Rp18.100 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau bergerak stagnan pada level 100,95.
Direktur Doo Financial Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa penurunan mata uang Garuda ini dipicu oleh kembali memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kedua belah pihak dilaporkan saling melepaskan serangan rudal serta drone, di mana Teheran membidik fasilitas militer milik AS di beberapa negara kawasan Teluk pada Minggu (12/7).
Pihak Iran juga mengumumkan penutupan kembali jalur laut Selat Hormuz.
Ibrahim menjelaskan, peningkatan eskalasi konflik tersebut menimbulkan keraguan di kalangan pelaku pasar mengenai keberlanjutan kesepakatan damai AS-Iran yang baru saja diteken bulan lalu.
Padahal, perjanjian itu awalnya diproyeksikan bisa membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz serta mengakhiri perselisihan setelah melewati proses negosiasi selama 60 hari.
"Serangan tersebut merupakan yang terbaru dalam siklus serangan. Serangan balasan Iran berupaya untuk menegaskan kendali atas pelayaran melalui Selat Hormuz," kata Ibrahim, Senin (13/7/2026).
Langkah penutupan kembali jalur perdagangan Selat Hormuz diprediksi dapat memicu lonjakan harga energi di tingkat global.
Ibrahim memaparkan bahwa potensi kenaikan harga energi yang terjadi secara terus-menerus ini kembali memicu kekhawatiran atas lonjakan inflasi, yang kelak bisa memengaruhi arah kebijakan moneter dari bank-bank sentral dunia.
Menurut pandangannya, ekspektasi para pelaku pasar terkait kebijakan Federal Reserve yang akan mempertahankan tingkat suku bunga tinggi untuk periode yang lebih lama kini kembali menguat.
Sementara itu, agenda rapat kebijakan moneter dari The Fed berikutnya dijadwalkan bakal digelar pada tanggal 28–29 Juli 2026.
"Risalah dari pertemuan Fed bulan Juni yang dirilis pekan lalu telah menunjukkan beberapa pembuat kebijakan percaya ada alasan untuk menaikkan suku bunga, sementara para pejabat secara umum menyatakan kekhawatiran yang lebih besar atas tekanan inflasi bahkan ketika kekhawatiran tentang pasar tenaga kerja mereda," jelas Ibrahim.
Dari dalam negeri, Ibrahim melihat pasar turut memberikan respons negatif terhadap dugaan kasus korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah.
Menurut penilaiannya, perselisihan yang terjadi di antara aparat penegak hukum tersebut berisiko memberikan dampak buruk pada iklim investasi serta stabilitas perekonomian nasional.
Ia juga menambahkan bahwa dinamika yang terjadi dalam penegakan hukum dapat memengaruhi kondisi lingkungan usaha.
Sebuah negara dengan tingkat kepastian hukum yang rendah, menurut dia, cenderung akan menghadapi ganjalan besar pada pertumbuhan ekonomi sekaligus penurunan minat investasi.
"Dengan hukum yang hancur seperti ini, maka tidak ada lagi kepastian hukum dan secara otomatis kepercayaan investor jatuh. Ditambah kebijakan tidak pro pasar, yang menyebabkan terjadinya vote of no confidence yang akan menghambat perekonomian," kata dia.
Melihat perpaduan antara sentimen eksternal dan kondisi domestik tersebut, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih berisiko melanjutkan tren pelemahannya pada perdagangan Selasa (14/7/2026) dengan fluktuasi di kisaran Rp18.100 sampai Rp18.150 per dolar AS.