Dana Asing Keluar Rp 89,28 Triliun, Tekanan Sentimen Global dan Domestik
JAKARTA - Aksi jual investor asing di pasar saham Indonesia terus membesar. Secara kumulatif sejak awal tahun nilai jual bersih investor asing menembus Rp 89,28 triliun. Sejalan dengan derasnya arus modal keluar tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga masih terpuruk dengan koreksi 32,08 persen secara year-to-date (YTD), di tengah meningkatnya tekanan dari sentimen global dan domestik.
Investor asing kembali membukukan aksi jual bersih sebesar Rp 674,26 miIiar pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Sementara itu, sejak awal tahun, arus keluar dana asing menyentuh Rp 89,28 triliun. Secara teknikal reli penguatan IHSG pada perdagangan Kamis (9/7/2026) masih tertahan pada area resistance Fibonacci Retracement (FR) 61,8 persen sehingga membentuk pola downward bar.
Indikator Relative Strength Index (RSI) telah menunjukkan sinyal negatif yang diperkuat oleh penurunan volume transaksi. Meski demikian, indikator Stochastics K-D masih memberikan sinyal positif. “Berdasarkan indikator, RSI menunjukkan sinyal negatif didukung penurunan volume, namun Stochastics K-D masih menunjukkan sinyal positif. Dinamika pergerakan IHSG diperkirakan didominasi oleh sentimen negatif dengan kecenderungan melanjutkan koreksi,” ucapnya.
Lebih jauh, keputusan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) yang memasukkan Indonesia ke dalam watchlist reklasifikasi pasar 2027 menjadi sentimen negatif bagi IHSG dalam jangka pendek. Meski demikian, langkah tersebut juga dapat menjadi momentum bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) untuk mempercepat reformasi pasar modal. Reformasi yang dimaksud mencakup peningkatan transparansi, likuiditas pasar, porsi free float, hingga kemudahan akses bagi investor institusi global.
Upaya ini dinilai penting untuk menjaga status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market) dan menghindari potensi penurunan klasifikasi. Selain itu, pelaku pasar juga menantikan rilis data penjualan ritel Indonesia periode Mei 2026 yang diperkirakan tumbuh 2 persen setelah pada bulan sebelumnya mengalami kontraksi 3,7 persen.
Proyeksi perbaikan didorong oleh meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), seperti Hari Kenaikan Yesus Kristus, Waisak, dan Idul Adha. Data ini dinilai akan menjadi salah satu indikator penting bagi prospek saham-saham sektor consumer cyclicals dan consumer non-cyclicals di tengah pergerakan IHSG yang masih berada dalam fase konsolidasi.
Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi faktor utama yang membebani pasar keuangan. Pernyataan Presiden AS Donald Trump dalam KTT NATO di Ankara mengenai berakhirnya gencatan senjata dengan Iran memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Hal itu meningkatkan risiko terganggunya pasokan energi melalui Selat Hormuz, sehingga mendorong lonjakan harga minyak dunia dan memperbesar tekanan inflasi global.
Ketidakpastian geopolitik tersebut juga mendorong investor memburu aset-aset safe haven, termasuk dollar AS, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pada perdagangan pagi hari ini, rupiah masih melemah di atas level psikologis Rp 18.000 per dollar AS. Di sisi lain, pasar masih memperoleh sentimen positif dari risalah rapat Federal Reserve (Fed Meeting Minutes) yang menunjukkan sinyal lebih dovish.
IHSG bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis. Hingga pukul 09.51 WIB, Indeks berada di level 5.870,77, melemah 2,60 poin atau 0,04 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pada awal sesi, IHSG dibuka pada 5.865,77 dan sempat tertekan hingga menyentuh posisi terendah 5.839,67. Namun, indeks kemudian berbalik menguat dan mencapai area tertinggi 5.904,39, sebelum kembali bergerak di zona merah tipis.
Aktivitas perdagangan cukup ramai dengan data transaksi sebagai berikut: Volume transaksi 7,21 miliar saham Nilai transaksi Rp 3,13 triliun dari 805.647 kali transaksi 252 saham menguat 292 saham melemah 187 saham bergerak stagnan