Emas Dunia Melemah, Minyak Naik 5 Persen, FedWatch Prediksi Suku Bunga Naik

Ilustrasi Emas (Sumber foto: NET)
Kamis, 09 Juli 2026 | 10:36:02 WIB

JAKARTA – Harga emas dunia kembali tertekan pada perdagangan Rabu (8/7/2026), memperpanjang pelemahan menjadi tiga hari berturut-turut dan sempat menyentuh level terendah dalam sepekan. Sentimen pasar memburuk setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara dengan Iran berakhir. Pernyataan itu memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi.

Harga emas spot ditutup turun 0,69 persen menjadi 4.077 US dolar per ons troi, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus anjlok 1,7 persen ke 4.086 US dolar per ons troi. Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan pelemahan emas dipicu eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Iran mengklaim menargetkan fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai respons atas serangan Washington terhadap target-target Iran, menyusul insiden kapal tanker di Selat Hormuz. Situasi tersebut mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 5 persen.

Risalah rapat The Fed pada 16–17 Juni menunjukkan pejabat bank sentral semakin khawatir terhadap inflasi tinggi. Beberapa peserta menilai ada alasan kuat untuk segera menaikkan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga AS pada September mencapai 69 persen, naik dari 62 persen sehari sebelumnya.

Bank of America memangkas proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026 sebesar 14 persen menjadi 4.360 US dolar per ons troi karena sikap The Fed yang lebih agresif. Meski demikian, bank tersebut masih melihat potensi harga emas mencapai 5.000 US dolar per ons troi setelah siklus pengetatan moneter berakhir.

Logam mulia lain juga melemah. Harga perak spot turun 2,78 persen ke 58,29 US dolar per ons, platinum terkoreksi 3,47 persen ke 1.586,65 US dolar per ons, dan palladium jatuh 3,78 persen ke 1.219 US dolar per ons.

Dengan kombinasi ketegangan geopolitik, lonjakan harga minyak, dan ekspektasi suku bunga tinggi, pasar emas dunia masih berada dalam tekanan kuat.

Reporter: Diaz Muhammad Hanif