Emas Dunia Melemah, Spot Turun 0,9 Persen ke 4.068 US dolar per Ounce
JAKARTA – Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu (8/7/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesepakatan sementara dengan Iran berakhir. Pernyataan tersebut memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Mengutip CNBC, Kamis (9/7/2026), harga emas di pasar spot turun 0,9 persen menjadi 4.068 US dolar per ounce. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga melemah 1,5 persen ke 4.095 US dolar per ounce.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan eskalasi ketegangan AS–Iran menjadi faktor utama pergerakan pasar. Iran mengklaim menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai respons atas serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Situasi ini mendorong harga minyak mentah Brent naik lebih dari 5 persen ke level tertinggi sejak 22 Juni.
Risalah rapat Federal Reserve periode 16–17 Juni menunjukkan perbedaan pandangan mengenai arah kebijakan suku bunga. Sebagian pejabat menilai inflasi berpotensi melandai, sementara yang lainnya memperkirakan tekanan harga tetap tinggi sehingga kenaikan suku bunga masih diperlukan.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September mencapai 67 persen, naik dari 62 persen sehari sebelumnya. Bank of America dalam riset terbarunya menurunkan proyeksi rata-rata harga emas 2026 sebesar 14 persen menjadi 4.360 US dolar per ounce, namun tetap memperkirakan harga emas berpeluang mencapai 5.000 US dolar per ounce setelah siklus pengetatan berakhir.
Selain emas, logam mulia lain juga terkoreksi. Harga perak turun 2,42 persen ke 58,5681 US dolar per ounce, platinum melemah 3,6 persen ke 1.582,13 US dolar per ounce, dan palladium jatuh 4,3 persen ke 1.221,97 US dolar per ounce.
Dengan kombinasi ketegangan geopolitik, lonjakan harga minyak, dan ketidakpastian arah kebijakan moneter AS, pasar emas dunia masih berada dalam tekanan kuat.