Pasar Global Dorong Logam Mulia, Resistance Spot di Rp4.238 per Ons
JAKARTA – Harga emas dunia pada perdagangan Senin, 6 Juli 2026, ditutup mixed. Emas spot turun 0,24 persen ke 4.164,87 US dolar per ons, sementara emas berjangka kontrak Agustus 2026 naik 1 persen ke 4.167,5 US dolar per ons.
Kenaikan harga emas mendapat dukungan dari data tenaga kerja AS bulan Juni yang lebih lemah dari perkiraan. Non-Farm Payrolls hanya mencatat 57.000 lapangan kerja baru, jauh di bawah Mei yang mencapai 110.000. Kondisi ini mengurangi peluang Federal Reserve untuk memperketat kebijakan moneter.
Selain itu, harga minyak mentah yang lebih lemah menurunkan ekspektasi inflasi dan mendorong bank-bank sentral global melonggarkan kebijakan. Dolar AS juga berbalik melemah setelah sempat naik, menjadi faktor pendukung tambahan bagi logam mulia.
Meski demikian, likuidasi dana logam mulia menekan harga. Kepemilikan jangka panjang ETF emas turun ke level terendah 9,5 bulan pada Jumat lalu, setelah sempat mencapai puncak tertinggi 3,5 tahun pada Februari.
Proyeksi perdagangan emas:
Spot: Resistance di 4.202–4.238 US Dollar per ons, Support di 4.129–4.092 US Dollar.
Berjangka AS: Resistance di 4.211–4.255 US Dolar per ons, Support di 4.129–4.091 US Dolar.
Analyst Vibiz Research Center menilai harga emas berpotensi menguat dalam perdagangan selanjutnya, seiring menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed setelah pelemahan data tenaga kerja AS.
Dengan tren ini, emas tetap menjadi instrumen lindung nilai yang relevan, meski investor perlu mencermati dinamika pasar global dan arus keluar dari ETF yang dapat menekan harga dalam jangka pendek.