Rupiah Berpotensi Menguat Awal Pekan, Bergerak di Kisaran Rp17.700–Rp18.100 per Dolar AS
JAKARTA – Nilai tukar rupiah diproyeksikan memiliki ruang untuk menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan pekan ini, Senin, 6 Juli 2026. Pelemahan indeks dolar AS akibat data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan menjadi faktor eksternal utama yang membuka peluang penguatan rupiah.
Analis Doo Financial Futures menyebutkan minimnya agenda data ekonomi penting dari AS membuat perhatian investor tertuju pada dampak data nonfarm payrolls (NFP). Kondisi tersebut membuka peluang bagi indeks dolar AS untuk melanjutkan pelemahannya, sehingga memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.
Namun, dari sisi domestik, penguatan rupiah akan bergantung pada sejumlah data ekonomi yang dirilis pekan ini, seperti cadangan devisa, indeks kepercayaan konsumen, dan penjualan ritel. “Penguatan rupiah dapat tertahan dan mungkin berbalik melemah apabila data-data ekonomi domestik pekan depan mengecewakan,” ujar analis.
Meski begitu, performa rupiah diperkirakan masih tertinggal dibandingkan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya. Sentimen domestik seperti potensi penurunan peringkat utang Indonesia, status pasar modal, serta isu ketahanan fiskal pemerintah dinilai membuat investor lebih berhati-hati.
Dengan mempertimbangkan faktor eksternal dan domestik, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.700 hingga Rp18.100 per dolar AS sepanjang pekan ini. Pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026, rupiah ditutup menguat 44 poin ke level Rp17.945 per dolar AS.
Sementara itu, pada Senin pagi 6 Juli 2026 pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah 0,18 persen ke level Rp17.995 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda diikuti mayoritas mata uang Asia lainnya, dengan yen Jepang memimpin pelemahan sebesar 0,30 persen, disusul dolar Taiwan 0,28 persen, dan won Korea 0,25 persen.