IHSG Ditutup Menguat 0,92% ke 5.695, Sektor Energi Jadi Penopang Utama
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat di tengah tekanan ekonomi. Sepanjang perdagangan, indeks sempat bergerak mendatar sebelum akhirnya ditutup di zona hijau.
Penguatan IHSG terjadi meski data ekonomi domestik berada di bawah ekspektasi. PMI manufaktur Indonesia turun ke 46,9 pada Juni dari 50 pada Mei, menandakan kontraksi. Inflasi tahunan naik ke 3,34% pada Juni dari 3,08% pada Mei, melampaui proyeksi 3,2%. Neraca perdagangan Mei mencatat defisit USD1,61 miliar, defisit pertama sejak April 2020. Rupiah juga melemah 0,25% ke Rp17.952 per USD.
Menurut riset Phintraco Sekuritas, indikator teknikal menunjukkan Stochastic RSI mendekati area oversold, sementara MACD berpotensi membentuk pola death cross. IHSG diperkirakan berkonsolidasi di kisaran 5.600–5.800.
MNC Sekuritas menilai tekanan koreksi belum berakhir, dengan peluang IHSG menguji area 5.472–5.540 pada Kamis (2/7/2026). Untuk perdagangan jangka pendek, MNC merekomendasikan saham ANTM, BIPI, BRPT, dan PGAS sebagai pilihan trading.