Laju IHSG Kamis Pagi Bergerak Menguat Respons Arah Suku Bunga Dunia
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis pagi bergerak menguat di saat investor masih mencermati arah kebijakan suku bunga acuan di tingkat global. IHSG dibuka menguat 14,72 poin atau 0,26 persen ke posisi 5.709,84. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 2,57 poin atau 0,46 persen ke posisi 559,32.
"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 5.320- 5.735. Potensi koreksi masih berpotensi terjadi, tetap hati-hati,” ujar seorang analis pasar modal dalam kajiannya di Jakarta, Kamis. Dari mancanegara, dalam pertemuan di forum perbankan European Central Bank (ECB), Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan bahwa risiko inflasi telah menurun untuk beberapa pekan mendatang, dengan target inflasi masih berada di level 2 persen.
Warsh mengatakan bahwa ekspektasi inflasi selama empat pekan pertama telah kembali turun, sehingga sesuai fokus The Fed untuk memberikan stabilitas di sisi inflasi. Seiring The Fed tidak jadi menaikkan suku bunga, hal itu membuat imbal hasil obligasi tidak jadi kembali naik bahkan cenderung mengalami penurunan. The Fed melihat, kenaikan inflasi pada tahun sebelumnya hanya bersifat sementara.
"Karena saat ini, harga energi dan bensin terus mengalami penurunan, karena ada kabar baik mengenai kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Iran,” ujarnya. Selain itu, Warsh mengingatkan bahwa The Fed tetap independen, meskipun Presiden AS Donald Trump selalu menginginkan penurunan tingkat suku bunga. Warsh mengatakan bahwa The Fed akan memiliki arah yang baru, namun Warsh tidak akan mengatakannya.
"Proyeksi terbaru untuk tingkat suku bunga, dimana 18 pejabat memproyeksikan kenaikan tingkat suku bunga di tahun ini,” katanya. Dari dalam negeri, data mencatat inflasi Juni 2026 secara bulanan mencapai 0,44 persen month to month (mtm), secara tahun kalender tercatat 1,79 persen year to date (ytd), dan secara tahunan sebesar 3,34 persen year on year (yoy). Kenaikan inflasi dampak dari siklus musiman, kenaikan bahan baku, serta kenaikan harga BBM.
Di samping itu, neraca perdagangan Indonesia tercatat defisit 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026, yang merupakan defisit pertama sejak enam tahun terakhir akibat nilai impor yang mencapai 24,81 miliar dolar AS atau melampaui nilai ekspor sebesar 23,20 miliar dolar AS. "Tekanan terhadap sektor eksternal Indonesia mulai meningkat, terutama akibat perlambatan ekspor di tengah melemahnya permintaan global, serta penurunan harga sejumlah komoditas unggulan," paparnya.
Di sisi lain, kenaikan impor mencerminkan masih kuatnya kebutuhan domestik, baik untuk bahan baku, barang modal, maupun energi. Jika peningkatan impor didominasi oleh bahan baku dan barang modal, kondisi ini masih dapat dipandang positif karena mendukung aktivitas produksi dan investasi. Apabila tren pelemahan ekspor berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, surplus perdagangan yang selama ini menjadi penopang stabilitas nilai tukar rupiah dan cadangan devisa berpotensi menyusut.
"Meski demikian, karena secara kumulatif Januari-Mei 2026 neraca perdagangan masih mencatat surplus, dampak terhadap fundamental ekonomi Indonesia diperkirakan masih terbatas,” tambahnya.
Pada perdagangan Rabu (01/06) kemarin, bursa Eropa bergerak variatif:
Euro Stoxx 50 melemah 0,70 persen indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,18 persen indeks DAX Jerman menguat 0,18 persen indeks CAC 40 Prancis melemah 0,79 persen
Bursa AS Wall Street juga variatif pada Rabu (01/06):
Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,03 persen indeks S&P 500 melemah 0,2 persen indeks Nasdaq Composite melemah 1,54 persen
Bursa saham regional Asia pagi ini:
indeks Nikkei menguat 1,55 persen ke 19.733,00 indeks Shanghai melemah 0,83 persen ke 4.078,00 indeks Hang Seng melemah 1,15 persen ke 23.143,00 indeks Strait Times menguat 0,49 persen ke 5.186,00