Penyebab IHSG Menguat Lebih dari 1 Persen pada Perdagangan Jakarta

Ilustrasi ihsg (sumber foto: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Kamis, 02 Juli 2026 | 08:22:27 WIB

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (2/7/2026), melanjutkan tren kenaikan yang telah dicatatkan pada hari sebelumnya. Hingga pukul 09.16 WIB, pergerakan indeks terpantau mengalami penguatan sebesar 1,22% atau mengalami kenaikan sebanyak 69 poin menuju level 5.764. Adapun untuk posisi tertinggi yang berhasil disentuh oleh indeks pada perdagangan pagi ini berada pada level 5.773,48.

Nilai transaksi di pasar saham tercatat menyentuh angka sekitar Rp 1,68 triliun dengan volume perdagangan mencapai 2,78 miliar saham yang berpindah tangan dalam 200 ribu kali frekuensi transaksi. Dalam pergerakan tersebut, terdapat sebanyak 356 saham yang mengalami penguatan, 162 saham terpantau melemah, sedangkan 165 saham lainnya bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan.

Hampir seluruh sektor perdagangan saham bergerak ke zona hijau dengan hanya sektor kesehatan yang mengalami koreksi tipis pada hari ini. Sektor yang mengalami kenaikan paling tinggi di antaranya adalah: Sektor barang baku (+2,57%) Sektor utilitas (+1,85%) Sektor finansial (+1,44%) Sektor properti (+1,36%)

Saham-saham yang masuk dalam kategori blue chip serta emiten yang terafiliasi dengan grup konglomerasi bisnis juga turut mengalami penguatan yang signifikan pada hari ini.

Saham dari tiga emiten perbankan raksasa di Indonesia tercatat menjadi pendorong utama bagi kinerja indeks pada perdagangan hari ini. Bank Central Asia (BBCA) tercatat berkontribusi menyumbang penguatan sebesar 17,69 indeks poin, disusul oleh Bank Mandiri (BMRI) sebesar 9,82 indeks poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebanyak 4,39 indeks poin, dan Bank Negara Indonesia (BBNI) sebesar 2,64 indeks poin.

Secara umum, seluruh saham perbankan besar di Indonesia, termasuk kategori KBMI III, terpantau kompak bergerak menguat yang dipimpin langsung oleh kenaikan harga saham dari BBCA dan BMRI.

Di sisi lain, emiten milik konglomerat juga turut menjadi motor penggerak bagi performa indeks dengan kontribusi terbesar yang datang dari saham AMMN, BRMS, BREN, dan MORA. Seluruh pergerakan saham dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu terpantau kompak menguat pada hari ini.

Emiten yang bergerak di bidang pertambangan emas juga terpantau mengalami kenaikan secara bersamaan pada hari ini, di mana saham BRMS dan ANTM ikut andil menjadi pendorong performa indeks.

Saat memasuki hari kedua di semester II-2026, pasar keuangan di dalam negeri akan dihadapkan pada pergerakan sejumlah sentimen, mulai dari rilis data ekonomi hingga agenda pidato dari Chairman The Fed Kevin Warsh.

Kondisi defisit pada neraca perdagangan, penurunan indeks PMI Manufaktur, peningkatan angka inflasi, serta pandangan dari pihak The Fed yang dinilai masih hawkish dapat memicu tekanan tersendiri bagi pergerakan nilai tukar rupiah hingga laju indeks pada hari ini.

Sementara itu, bursa di kawasan Asia-Pasifik bergerak melemah saat pembukaan perdagangan hari Kamis (3/7/2026), mengikuti jejak penurunan yang terjadi di bursa saham Wall Street seiring dengan adanya aksi ambil untung yang dilakukan investor pada saham-saham sektor teknologi, terutama di industri semikonduktor.

Indeks Kospi di Korea Selatan memimpin penurunan di kawasan tersebut dengan anjlok sedalam 5,36% pada saat awal pembukaan perdagangan. Koreksi tajam ini membuat pihak Korea Exchange (KRX) menghentikan sementara aktivitas perdagangan selama lima menit demi meredam gejolak pasar, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil yakni Kosdaq mengalami penurunan sebesar 3,55%.

Untuk pergerakan di Jepang, indeks Nikkei 225 mengalami penurunan sebesar 0,70%, namun untuk indeks Topix masih sanggup mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,13%. Di samping itu, indeks acuan Australia yaitu S&P/ASX 200 terpantau mengalami koreksi sebesar 0,59% pada awal perdagangan.

Sentimen negatif yang melanda kawasan Asia ini mengikuti pergerakan dari bursa saham di Amerika Serikat yang ditutup melemah pada perdagangan hari Rabu waktu setempat. Indeks Dow Jones sebenarnya sempat melonjak hingga 423,46 poin dan menyentuh rekor tertinggi intraday sebelum pada akhirnya memangkas seluruh keuntungan tersebut dan ditutup hampir tidak mengalami perubahan.

Sedangkan untuk indeks S&P 500 terpantau mengalami penurunan sebesar 0,2% dan indeks Nasdaq Composite mengalami koreksi sebesar 0,7%. Penurunan pada bursa tersebut terjadi seiring langkah para pelaku pasar yang mulai mengurangi kepemilikan aset mereka pada saham-saham perusahaan produsen chip yang sebelumnya telah menjadi motor utama penggerak pasar.

Reporter: Moch Febrianto