Harga Emas Dunia Naik Tipis ke USD4.031 per Ons, Semester I 2026 Masih Melemah
JAKARTA – Harga emas global berbalik naik tipis pada perdagangan Rabu (1/7/2026), sehari setelah mencatat penurunan kuartalan terdalam sejak 2013. Pelemahan harga minyak ke level sebelum konflik Iran meredakan sebagian tekanan inflasi, meski ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat masih membatasi penguatan emas.
Sepanjang kuartal II 2026, harga emas spot turun 14,3 persen dan melemah 7,2 persen selama semester pertama. Pelaku pasar kini mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) melalui serangkaian data tenaga kerja AS.
Data Challenger menunjukkan jumlah PHK di AS pada Juni mencapai 45.849, turun 53 persen dari Mei. Sementara laporan ADP mencatat sektor swasta menambah 98 ribu lapangan kerja, lebih rendah dari ekspektasi 118 ribu. Investor menunggu laporan nonfarm payrolls (NFP) Juni sebagai acuan utama kondisi pasar tenaga kerja.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam forum Bank Sentral Eropa (ECB) menegaskan risiko inflasi mulai menurun, meski peluang kenaikan suku bunga tahun ini tetap terbuka. Turunnya harga minyak setelah perjanjian damai sementara AS–Iran turut meredakan tekanan inflasi.
Dewan Emas Dunia (World Gold Council/WGC) menilai paruh kedua 2026 akan menjadi periode penting bagi pasar emas, seiring tingginya risiko geopolitik dan perubahan ekspektasi suku bunga. Kepala Riset Global WGC, Juan Carlos Artigas, menekankan bahwa permintaan jangka panjang dari bank sentral, investor institusional, dan konsumen tetap menjadi fondasi utama ketahanan harga emas.