Mengenal Sejarah Coto Makassar dan Perkembangannya bagi Nusantara

Ilustrasi Coto Makassar(sumber:net)
Penulis: Redaksi
Rabu, 24 Juni 2026 | 09:02:00 WIB

JAKARTA - Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan warisan budaya, tradisi, dan kuliner tradisional. Salah satu hidangan berkuah paling legendaris yang memiliki cita rasa kuat dan dicintai oleh berbagai kalangan adalah Coto Makassar. Ketika kita menyantap semangkuk coto yang hangat lengkap dengan potongan daging sapi yang empuk dan kuah kacang yang kaya rempah, kita sebenarnya sedang menikmati lembaran sejarah yang telah ditulis sejak ratusan tahun lalu. 

Menelusuri sejarah Coto Makassar dan perkembangannya bukan sekadar membahas tentang evolusi sebuah resep masakan, melainkan membaca kembali kisah kejayaan maritim, jalur perdagangan rempah-rempah global, serta diplomasi budaya masyarakat Sulawesi Selatan.

Bagi masyarakat Bugis-Makassar, hidangan ini bukan sekadar pemuas rasa lapar. Ia adalah simbol identitas, bentuk penghormatan kepada tamu, dan manifestasi dari filosofi hidup lokal. Artikel ini akan mengupas tuntas secara mendalam mengenai asal-usul, pengaruh budaya asing, transformasi resep, hingga bagaimana hidangan tradisional ini berhasil mempertahankan eksistensinya di tengah gempuran kuliner modern saat ini.

Asal-Usul dan Akar Sejarah Abad ke-16

Akar sejarah dari hidangan berkuah ini dapat ditarik mundur hingga masa kejayaan Kerajaan Gowa pada abad ke-16, tepatnya sekitar tahun 1538. Pusat pemerintahan kerajaan kala itu berada di Somba Opu, sebuah wilayah bandar niaga yang sangat sibuk dan menjadi salah satu pusat perdagangan utama di kawasan timur Nusantara. Pada masa itu, wilayah Makassar sering disinggahi oleh para pelaut, saudagar, dan penjelajah dari berbagai penjuru dunia, mulai dari Tiongkok, India, Arab, hingga bangsa Eropa seperti Portugis dan Spanyol.

Pada awalnya, hidangan berkuah ini lahir di dalam lingkungan istana kerajaan. Para juru masak istana meramu berbagai macam rempah-rempah lokal untuk menyajikan makanan terbaik bagi keluarga kerajaan, para bangsawan, serta tamu-tamu agung yang berkunjung ke istana Gowa. Pemilihan bahan baku daging sapi berkualitas tinggi menjadi prioritas utama untuk hidangan para pembesar kerajaan. Proses memasak yang memakan waktu lama dengan teknik khusus melahirkan kualitas kaldu yang sangat gurih, pekat, dan beraroma harum. Hal inilah yang menjadi cikal bakal mengapa hidangan ini dianggap sebagai makanan yang sangat terhormat dan berkelas tinggi pada zaman dahulu.

Pengaruh Global dalam Semangkuk Coto

Satu hal yang membuat sejarah Coto Makassar dan perkembangannya menjadi sangat unik adalah adanya perpaduan budaya (akulturasi) di dalam resepnya. Sebagai kota pelabuhan kosmopolitan, Makassar menyerap banyak pengaruh eksternal, termasuk dalam urusan dapur. Pengaruh yang paling menonjol dalam hidangan ini datang dari para pedagang dan imigran asal Tiongkok yang menetap di wilayah pesisir Sulawesi Selatan.

Masyarakat Tionghoa membawa tradisi memasak sup berkuah dengan bahan dasar daging dan jeroan, serta memperkenalkan penggunaan beberapa jenis bumbu dan mangkuk keramik. Para juru masak lokal kemudian mengadopsi konsep sup tersebut, namun memodifikasinya secara total dengan menyuntikkan puluhan jenis rempah khas Nusantara. Langkah ini menciptakan rasa yang jauh lebih kompleks dan sesuai dengan lidah lokal. Kehadiran para pedagang dari Gujarat (India) dan Arab juga turut andil dalam memperkenalkan variasi rempah kering yang aromatik, sehingga kuah hidangan ini memiliki karakter yang sangat khas, kuat, dan tidak dapat ditemukan pada jenis sup atau soto dari daerah lain.

Demokratisasi Kuliner: Dari Istana ke Rakyat Jelata

Meskipun lahir di dalam benteng istana yang megah, hidangan ini tidak selamanya menjadi monopoli kaum bangsawan. Seiring berjalannya waktu, terjadilah proses demokratisasi kuliner, di mana resep istana ini mulai keluar dan menyebar ke luar lingkungan kerajaan. Proses ini memicu kreativitas baru di tengah masyarakat kelas pekerja dan para pelaut di sekitar Pelabuhan Somba Opu.

Dalam pembagian pemanfaatan hewan ternak saat itu, bagian daging sapi yang premium seperti sirloin dan tenderloin dialokasikan khusus untuk konsumsi keluarga kerajaan dan para pembesar istana. Sementara itu, bagian jeroan sapi seperti handuk (babat), parat, usus, hati, jantung, dan otak diberikan atau dijual dengan harga murah kepada masyarakat biasa serta para pekerja pelabuhan. 

Masyarakat kelas pekerja ini tidak kehabisan akal. Mereka mengolah jeroan tersebut menggunakan ramuan bumbu rempah-rempah yang sama dengan yang digunakan di dalam istana. Untuk menetralisir aroma amis yang tajam dari jeroan dan memberikan rasa gurih yang padat, mereka menambahkan kacang tanah goreng yang dihaluskan ke dalam kuah rebusan.

Inovasi penambahan kacang tanah inilah yang kemudian menjadi pembeda utama antara versi istana dan versi masyarakat jelata. Siapa sangka, modifikasi kuah kacang ini justru melahirkan cita rasa baru yang sangat lezat dan gurih, yang di kemudian hari justru menjadi standar baku keaslian dari hidangan khas ini hingga sekarang.

Filosofi Rempah "Ampah Patang Pulo"

Keistenghahan rasa dari kuliner legendaris ini terletak pada penggunaan bumbu dasarnya yang sangat melimpah. Dalam tradisi lisan masyarakat Makassar, formula asli bumbu racikan ini dikenal dengan istilah Ampah Patang Pulo, yang berarti empat puluh jenis rempah. Penggunaan angka empat puluh ini melambangkan kekayaan, kelengkapan, dan keseimbangan rasa yang sempurna.

Meskipun dalam praktiknya jumlah rempah yang digunakan berkisar antara 20 hingga 30 jenis, kompleksitas kombinasinya tetap menghasilkan rasa yang tiada tanding. Berikut adalah rincian komponen bumbu utama yang wajib ada dalam proses pengolahannya:

Rempah Aromatik Utama: Ketumbar, jintan, serai, lengkuas, jahe, daun salam, daun jeruk purut, dan kayu manis. Kombinasi ini berfungsi sebagai pembentuk aroma utama dan penghilang bau anyir jeroan.

Bumbu Penyedap Alami: Bawang merah, bawang putih, merica putih, dan kemiri yang disangrai terlebih dahulu sebelum dihaluskan untuk mengeluarkan minyak alami.

Pengental Kuah Khas: Kacang tanah yang digoreng tanpa minyak (sangrai) atau digoreng deep-fry, kemudian ditumbuk halus hingga mengeluarkan minyak dan dicampur langsung ke dalam air rebusan kaldu sapi.

Air Cucian Beras (Potta Lassi): Menggunakan air bilasan beras pertama atau kedua yang bersih sebagai pengganti air biasa untuk merebus daging. Air beras ini berfungsi mengentalkan kuah secara alami dan memberikan tekstur lembut pada kaldu.

Ketupat Kandong: Pasangan Setia yang Tak Tergantikan

Menikmati kuliner berkuah khas Sulawesi Selatan ini terasa tidak lengkap, bahkan dianggap keliru, jika ditemani oleh nasi putih biasa di atas piring. Pasangan sejati dari hidangan ini adalah ketupat khusus yang bernama Ketupat Kandong atau ketupat Makassar. Ketupat ini memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dari ketupat di wilayah Jawa atau Sumatra.

Ketupat Kandong dianyam menggunakan daun kelapa muda (janur) dengan bentuk persegi yang cenderung lebih kecil dan padat. Beras yang digunakan umumnya adalah varietas lokal yang menghasilkan tekstur ketupat yang kenyal namun tetap lembut saat digigit. Cara menyantapnya pun sangat khas: ketupat tidak dipotong menggunakan pisau di dapur, melainkan langsung dibelah menggunakan sendok atau tangan di atas mangkuk, lalu disiram dengan kuah panas yang kental. Perpaduan antara kenyalnya ketupat kandong dan gurihnya kuah kacang menciptakan harmoni tekstur yang sangat memanjakan lidah.

Perkembangan di Era Modern dan Globalisasi

Memasuki abad ke-20 hingga era milenium saat ini, sejarah Coto Makassar dan perkembangannya menunjukkan grafik yang sangat positif. Hidangan yang dulunya hanya bisa ditemui di sudut-sudut kota Makassar atau pada acara adat pernikahan di Sulawesi Selatan, kini telah bermigrasi secara masif ke berbagai kota besar di seluruh penjuru Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, hingga Balikpapan.

Perkembangan ini didorong kuat oleh budaya merantau yang melekat pada masyarakat Bugis, Makassar, dan Toraja. Di mana pun mereka membuka komunitas atau pemukiman baru di tanah rantau, mereka hampir selalu membawa serta keahlian memasak kuliner khas ini sebagai pengobat rindu sekaligus sebagai ladang bisnis yang sangat menjanjikan. Saat ini, kita dapat dengan mudah menemukan warung makan tradisional dengan spanduk khas yang menawarkan kelezatan hidangan ini, mulai dari warung tenda pinggir jalan hingga restoran bintang lima di pusat perbelanjaan mewah.

Tidak hanya berhenti di level nasional, kuliner ini juga mulai menembus batas negara melalui program diplomasi kuliner (gastrodiplomacy) yang digalakkan oleh pemerintah dan komunitas diaspora Indonesia di luar negeri. Hidangan ini kerap tampil dalam festival budaya internasional di Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan Asia Timur. Karakter kuahnya yang mirip dengan kuah berbasis kacang atau kari tipis membuatnya relatif mudah diterima oleh petualang kuliner internasional yang menyukai makanan kaya bumbu.

Tantangan Pelestarian Rasa Otentik

Di tengah perkembangan zaman yang sangat cepat, tantangan terbesar yang dihadapi oleh kuliner legendaris ini adalah menjaga keaslian rasa (authenticity). Beberapa penyesuaian resep sering kali tidak terhindarkan di tanah rantau akibat keterbatasan bahan baku spesifik atau penyesuaian dengan selera pasar lokal. Sebagai contoh, di luar Sulawesi Selatan, penggunaan air cucian beras (potta lassi) terkadang mulai ditinggalkan dan diganti dengan air biasa atau penambahan santan encer karena alasan kepraktisan higienitas. Hal ini tentu mengubah profil rasa asli yang seharusnya kesat dan gurih alami menjadi terlalu berat atau enek.

Selain itu, standarisasi potongan daging dan higienitas pengolahan jeroan menjadi fokus utama bagi para pelaku usaha modern agar makanan tradisional ini dapat bersaing dengan tren kuliner modern yang mengutamakan kecepatan pelayanan (fast food). Beruntung, banyak maestro kuliner Makassar yang tetap teguh mempertahankan resep warisan leluhur, menggunakan tungku tanah liat dan kayu bakar untuk proses perebusan daging demi menjaga aroma asap yang khas dan tingkat keempukan daging yang sempurna.

Kesimpulan: Warisan Budaya yang Terus Hidup

Membahas tentang sejarah Coto Makassar dan perkembangannya membawa kita pada sebuah kesimpulan bahwa makanan adalah cerminan dari peradaban sebuah bangsa. Dari sebuah dapur istana Kerajaan Gowa di abad ke-16, hidangan ini telah menempuh perjalanan waktu selama ratusan tahun, melewati masa-masa kolonialisme, adaptasi budaya, hingga era digitalisasi saat ini tanpa kehilangan jiwa aslinya.

Kemampuannya untuk bertahan dan terus digemari oleh generasi muda membuktikan bahwa cita rasa lokal yang dikelola dengan dedikasi tinggi tidak akan pernah usang ditelan waktu. Bagi Anda yang merupakan pencinta kuliner, menikmati semangkuk hidangan ini bukan sekadar urusan memanjakan lidah dan mengenyangkan perut, melainkan sebuah bentuk apresiasi nyata terhadap mahakarya sejarah dan budaya Nusantara yang sangat adiluhung. Mari kita terus mendukung dan melestarikan keberadaan kuliner tradisional Indonesia agar tetap jaya di negeri sendiri dan semakin dikenal di panggung dunia.

Reporter: Redaksi