Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp18.100 Per Dolar AS Hari Ini

Ilustrasi nilai tukar (sumber foto: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 10 Juni 2026 | 09:18:43 WIB

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026 diproyeksikan bakal mengalami variasi yang dinamis namun memiliki kecenderungan untuk berakhir di zona merah. Mata uang garuda diperkirakan akan bergerak pada kisaran antara Rp18.050 sampai dengan Rp18.100 per dolar AS.

Pada sesi perdagangan sebelumnya yang berlangsung Selasa, 9 Juni 2026, performa mata uang domestik sebenarnya sempat menunjukkan penguatan signifikan dengan naik sebesar 170 poin atau setara 0,94% menuju level Rp18.000 per dolar AS.

Kenaikan tersebut terjadi secara simultan bersama dengan sejumlah mata uang di kawasan Asia lainnya yang mencatatkan pergerakan bervariasi:

Yuan China menguat sebesar 0,19%

Won Korea meningkat sebesar 0,38%

Dolar Singapura naik sebesar 0,16%

Dolar Hong Kong terangkat sebesar 0,01%

Yen Jepang menyusut sebesar 0,01%

Baht Thailand terpangkas sebesar 0,12%

Dolar Taiwan melemah sebesar 0,03%

Suasana di pasar keuangan global sempat membaik menyusul pernyataan dari pihak Iran dan Israel yang mengumumkan penghentian aksi saling serang. Situasi ini bergulir setelah Presiden AS Donald Trump mendesak penghentian kontak senjata, walaupun Teheran menegaskan tetap meluncurkan serangan apabila Israel tidak menyudahi gempuran terhadap Hizbullah di Lebanon.

Di sisi lain, para pelaku pasar masih dibayangi kecemasan mengenai potensi inflasi tinggi yang dipicu oleh sektor energi. Kondisi tersebut memaksa investor membatasi ekspektasi mereka terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve, bahkan sebagian mulai mengantisipasi opsi pengetatan kebijakan keuangan yang lebih ketat, yang pada gilirannya mendongkrak keuntungan obligasi pemerintah serta memperkuat posisi dolar AS.

Sementara dari situasi domestik, Bank Indonesia mengambil langkah taktis dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 bps menjadi berada di level 5,50%.

Kebijakan menaikkan suku bunga ini diambil demi mengokohkan stabilitas nilai tukar rupiah dari imbas tingginya tensi geopolitik di Timur Tengah. Langkah pre-emptive ini juga ditujukan untuk mengontrol inflasi periode 2026 dan 2027 agar tetap aman pada rentang target 2,5% kurang lebih 1% sesuai ketentuan Pemerintah.

Maka dari itu, Bank Indonesia menilai pentingnya mengeksekusi strategi lanjutan guna mengamankan stabilitas mata uang nasional lewat peningkatan imbal hasil serta pemberian stimulus lain agar aliran modal dari investor asing bisa masuk ke dalam negeri.

Reporter: Moch Febrianto