Pasar Saham Tertekan dan IHSG Berpotensi Uji Level Support Baru 5.100

Ilustrasi ihsg, Sumber: (NET).
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 09 Juni 2026 | 10:06:40 WIB

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terpuruk ke posisi 5.342 pada penutupan perdagangan Senin, 8 Juni 2026. Kondisi ini terjadi seiring dengan merosotnya seluruh sektor saham di pasar modal domestik.

Sektor industri mencatat koreksi paling dalam dengan penurunan mencapai 6,39 persen. Di sisi lain, nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS juga ikut melemah 0,84 persen hingga menyentuh level Rp18.188.

Tekanan terhadap pasar ekuitas dalam negeri diproyeksikan masih memiliki peluang untuk terus berlanjut dalam waktu dekat. Posisi penutupan bursa domestik saat ini sudah berada di bawah rata-rata pergerakan atau MA 200 bulanan.

Secara teknikal, posisi di bawah kurva tersebut membuka ruang bagi koreksi lanjutan jangka pendek. Target penurunan berikutnya diperkirakan akan menguji area support baru yang berada pada level 5.100.

"Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah level MA200 monthly, sehingga potensi penurunan IHSG lebih lanjut masih berpeluang terbuka secara teknikal. Selanjutnya diperkirakan IHSG berpotensi akan menguji level support di 5.100."

Kelesuan pasar modal turut dipicu oleh sejumlah sentimen dari dalam negeri, salah satunya adalah penyusutan cadangan devisa Indonesia pada periode Mei 2026 menjadi US$144,9 miliar dari posisi sebelumnya sebesar US$146,2 miliar pada April 2026.

Nominal cadangan devisa tersebut menjadi catatan paling rendah sejak periode Juni 2024. Penurunan ini terjadi akibat adanya kegiatan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah intervensi pasar guna menstabilkan nilai tukar rupiah.

Meskipun simpanan devisa tersebut dinilai masih aman untuk membiayai 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor plus pembayaran utang luar negeri, tren penurunan yang konstan dikhawatirkan mampu memengaruhi pandangan para investor dunia.

Selain itu, indikator pasar riil seperti data distribusi sepeda motor domestik juga memperlihatkan perlambatan. Angka penjualan pada Mei 2026 merosot 5,1 persen secara tahunan menjadi sebanyak 479.388 unit setelah sempat melesat 28,1 persen pada April.

Fenomena penurunan tren pembelian otomotif roda dua tersebut menjadi cerminan dari mulai tergerusnya daya beli riil masyarakat luas akibat beban pengeluaran konsumen yang kian membengkak.

Sentimen lain datang dari pasar surat utang di mana terjadi lonjakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah untuk tenor 10 tahun yang merangkak naik ke posisi 7,27 persen dari rentang awal di kisaran 6,8 persen sampai 6,9 persen.

Kenaikan yield obligasi negara ini dipandang sebagai langkah penyesuaian yang rasional demi memikat kembali arus modal masuk dari investor global. Para pelaku pasar diimbau tetap waspada memantau arah kebijakan sebelum menambah porsi aset.

"Ketika imbal hasil obligasi 10 tahun berhasil menyentuh 7 persen, maka alarm pun berbunyi menjadi sebuah tanda untuk melakukan akumulasi dalam porsi bertahap."

Dari faktor global, kondisi ketenagakerjaan di Amerika Serikat terpantau masih solid walau mulai memperlihatkan tanda penyerapan yang melambat. Situasi ini memberi ruang bagi bank sentral AS untuk tetap agresif meredam laju inflasi.

Sementara itu, pembaruan data pertumbuhan domestik bruto Jepang yang berada di atas ekspektasi memberikan ruang yang cukup lebar bagi bank sentral setempat untuk mempercepat langkah normalisasi kebijakan moneter mereka.

Untuk perdagangan hari ini, pergerakan indeks saham domestik diproyeksikan masih rawan terkoreksi pada rentang batas support 5.230 hingga batas resistance 5.370. Dinamika politik global terkait meredanya tensi Iran dan Israel ikut dipantau pasar.

Kabar baik datang dari langkah pemerintah yang meluruskan simpang siur mengenai rencana penerapan sistem gross split pada komoditas mineral dan batu bara, yang menjadi angin segar bagi perusahaan tambang.

Kepastian mengenai tidak digunakannya skema regulasi tersebut di sektor minerba diprediksi mampu memangkas ketidakpastian hukum sekaligus menjaga gairah serta iklim investasi sektor komoditas dalam negeri.

Reporter: Moch Febrianto