Rupiah Bergerak Melemah di Kisaran Rp 18.050 hingga Rp 18.120 per Dolar AS
JAKARTA - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif namun cenderung melemah pada perdagangan Jumat (5/6/2026).
"Untuk perdagangan Jumat mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 18.050 - Rp 18.120,"
Pada perdagangan Kamis kemarin, rupiah ditutup melemah 82 poin menjadi Rp 18.049 per dolar AS. Sebelumnya, mata uang Garuda sempat tertekan hingga 90 poin akibat ketidakpastian global dan sentimen domestik.
Investor bersikap hati-hati menyusul meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah. Pelaksanaan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon masih bergantung pada komitmen kelompok Hizbullah.
Situasi kembali memanas setelah adanya laporan serangan rudal Iran ke Kuwait dan Bahrain, serta serangan Amerika Serikat terhadap Pulau Qeshm milik Iran.
Operasi militer Israel di Lebanon selatan yang terus meluas turut memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global dan potensi kenaikan harga minyak dunia.
Selain faktor geopolitik, pasar mencermati data ekonomi Amerika Serikat yang memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, terutama laporan non-farm payrolls.
Laporan ADP sebelumnya menunjukkan sektor swasta AS menambah 122.000 lapangan kerja pada Mei, melampaui ekspektasi ekonom.
Survei Institute for Supply Management menunjukkan biaya yang dibayarkan bisnis jasa AS melonjak ke level tertinggi sejak 2022, memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dipertahankan.
Dari dalam negeri, pasar mencermati peringkat Baa2 dari Moody’s untuk PT Danantara Investment Management dengan outlook negatif.
Penilaian tersebut didasarkan pada kaitan kuat antara Danantara Investment Management, Badan Pengelola Investasi Danantara, dan pemerintah Indonesia sebagai pemilik penuh.
Dalam jangka panjang, peringkat tersebut akan bergerak sejalan dengan peringkat sovereign Indonesia dan dapat turun jika peringkat sovereign melemah.