Sentimen Global dan Domestik Tekan Pergerakan Rupiah Jumat Pagi

Ilustrasi nilai tukar rupiah (sumber foto: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Jumat, 05 Juni 2026 | 09:50:07 WIB

JAKARTA - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif namun cenderung mengalami pelemahan pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026.

Mata uang rupiah diproyeksikan akan berada pada kisaran nominal Rp 18.050 sampai Rp 18.120 per dolar AS.

"Untuk perdagangan Jumat mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 18.050 - Rp 18.120," kata Ibrahim.

Pada sesi perdagangan Kamis kemarin, mata uang rupiah ditutup mengalami penurunan sebesar 82 poin ke posisi Rp 18.049 per dolar AS.

Sebelumnya, pergerakan mata uang Garuda sempat mengalami tekanan hingga mencapai 90 poin akibat melonjaknya ketidakpastian global serta beberapa sentimen dari dalam negeri.

Para pelaku pasar saat ini masih bersikap waspada menyusul eskalasi ketegangan militer yang terjadi di wilayah Timur Tengah.

Walaupun pihak Washington telah mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu malam, realisasinya dinilai masih bergantung pada penghentian konflik oleh kelompok Hizbullah.

Kondisi di kawasan tersebut kembali memanas setelah beredar laporan mengenai serangan rudal dari Iran yang mengarah ke wilayah Kuwait dan Bahrain.

Di samping itu, Amerika Serikat dikabarkan melancarkan serangan ke Pulau Qeshm kepunyaan Iran yang terletak di dekat Selat Hormuz.

Sementara itu, pihak militer Israel terus melakukan perluasan operasi tempur di kawasan Lebanon selatan yang menjadi basis utama kekuatan Hizbullah.

Lonjakan konflik ini menimbulkan kekhawatiran besar di pasar global terkait potensi gangguan rantai pasokan energi dan kenaikan harga minyak mentah dunia.

Di luar persoalan geopolitik, pelaku pasar juga tengah mengamati rilis beberapa data ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi keputusan suku bunga Federal Reserve.

Fokus perhatian para investor kini mengarah pada data laporan penggajian non-pertanian yang dijadwalkan meluncur pada Jumat waktu setempat.

Indikator tersebut menjadi acuan utama dalam melihat kondisi kekuatan pasar tenaga kerja di Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan yang dirilis sebelumnya oleh perusahaan pemroses penggajian ADP, sektor swasta di AS berhasil menambah sebanyak 122.000 lapangan pekerjaan baru sepanjang bulan Mei.

Jumlah pencapaian tersebut berada di atas perkiraan para ekonom serta lebih tinggi bila dibandingkan dengan perolehan bulan sebelumnya.

Pada waktu yang bersamaan, hasil survei dari Institute for Supply Management menunjukkan indikator biaya yang dikeluarkan oleh sektor bisnis jasa AS melonjak ke titik tertinggi sejak tahun 2022.

Kenaikan ini dipicu oleh tingginya biaya untuk komoditas produk minyak bumi serta bahan baku lainnya, yang memperkuat dugaan bahwa Federal Reserve bakal menahan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Dari situasi domestik, perhatian pasar tersorot pada langkah Moody's Ratings yang menyematkan peringkat perdana untuk PT Danantara Investment Management di posisi Baa2.

Peringkat sementara ini ditujukan untuk global medium-term note yang belum diterbitkan oleh lembaga tersebut, dengan outlook peringkat yang dinyatakan berada pada level negatif.

Mengenai status outlook negatif itu, pihak Moody's memberikan penilaian berdasarkan adanya hubungan keterkaitan yang sangat kuat antara PT Danantara Investment Management, Badan Pengelola Investasi Danantara, dan pemerintah Indonesia selaku pemilik penuh.

Dalam proyeksi jangka panjang, pergerakan peringkat tersebut dipastikan akan berjalan selaras dengan peringkat sovereign dari negara Indonesia.

Peringkat yang dimiliki oleh Danantara Investment Management tersebut berisiko mengalami penurunan apabila peringkat sovereign Indonesia menunjukkan pelemahan.

Reporter: Moch Febrianto