Nilai Kurs Rupiah Melemah ke Rp17.881 per Dolar AS, BI Ungkap Penyebab
JAKARTA - Nilai tukar mata uang Garuda kembali menunjukkan tren penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan pekan ini. Berdasarkan informasi dari data perdagangan Bloomberg, pergerakan kurs berada pada posisi Rp17.881 per dolar AS pada Sabtu, 30 Mei 2026 pukul 15.38 WIB.
Kondisi pelemahan yang terus tertahan pada kisaran Rp17.800-an dalam beberapa waktu terakhir ini langsung mendapatkan perhatian serius dari bank sentral.
Pihak bank sentral menegaskan bahwa langkah-langkah nyata untuk menjaga stabilitas mata uang terus dijalankan, bahkan di saat pasar dalam negeri sedang dalam masa libur.
Pihak bank sentral menjelaskan bahwa tekanan yang dialami oleh mata uang nasional ini dipicu oleh ketidakstabilan situasi geopolitik global.
Salah satu faktor eksternal yang paling memengaruhi adalah ketegangan dan konflik yang sampai saat ini masih bergejolak di wilayah Timur Tengah.
Sebagai bentuk antisipasi, bank sentral berkomitmen penuh untuk mengawal stabilitas nilai tukar dengan melakukan intervensi secara terus-menerus selama 24 jam di pasar keuangan global.
"Komitmen tersebut diwujudkan melalui mengoptimalkan intervensi pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder secara konsisten dan terukur," ujar pihak bank sentral dalam keterangan resminya, Jumat, 29 Mei 2026.
Di samping faktor luar negeri, pergerakan ini juga dipengaruhi oleh lonjakan permintaan valuta asing yang terjadi secara periodik atau musiman di dalam negeri.
Kebutuhan dana asing tersebut melonjak demi memenuhi pembayaran utang luar negeri serta pengiriman dividen perusahaan ke luar negeri, sementara pasokan dolar AS yang masuk ke dalam negeri masih sangat terbatas.
Guna mempertahankan daya pikat pasar investasi domestik, bank sentral terus memaksimalkan bauran strategi moneter.
Langkah ini ditempuh melalui penguatan instrumen tingkat suku bunga yang dirancang agar lebih adaptif dalam merespons dinamika dan keperluan pasar saat ini.
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui penguatan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi,” katanya.
Otoritas moneter memastikan akan senantiasa mengawasi pergerakan ekonomi serta dinamika pasar finansial, baik di tingkat domestik maupun internasional.
Langkah pemantauan ketat ini dipersiapkan untuk memitigasi segala risiko tekanan lanjutan terhadap nilai tukar nasional.
Pihak bank sentral kembali menegaskan bahwa segala bentuk kebijakan stabilisasi akan diterapkan secara berkelanjutan.
Hal tersebut bertujuan untuk membentengi ketahanan sektor luar negeri Indonesia sekaligus menjamin iklim pasar keuangan tetap kondusif.
Bank sentral dipastikan akan selalu proaktif mengambil tindakan yang diperlukan di pasar keuangan secara proporsional demi menjaga stabilitas mata uang di tengah situasi ekonomi dunia yang penuh ketidakpastian.