Pasar Saham Buka Ini Deretan Saham Cum Dividen dengan Yield 9,7 Persen
JAKARTA - Pasar saham di Bursa Efek Indonesia kembali beroperasi hari ini, Jumat 29 Mei 2026 setelah libur memperingati Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Para pemodal disarankan memperhatikan beberapa saham yang menjadwalkan masa cum dividen dari hari ini sampai beberapa hari ke depan.
Cum dividen merupakan batas waktu terakhir kepemilikan saham bagi pemegang saham yang ingin mendapatkan hak dividen.
Pemodal yang mengincar keuntungan ini wajib membeli saham paling lambat pada tanggal cum dividen dan menahannya sampai tanggal pencatatan resmi.
Terdapat bermacam emiten yang bersiap membagikan dividen tunai pada periode akhir Mei hingga awal Juni 2026.
Sektor perusahaan tersebut bergerak mulai dari komoditas batu bara, badan usaha milik negara, industri perbankan, hingga barang konsumsi dengan realisasi pembayaran pada Juni 2026.
Pada perdagangan hari Jumat 29 Mei 2026, tercatat ada sembilan perusahaan yang melewati masa cum dividen tunai.
Daftar emiten beserta nilai dividen per sahamnya adalah sebagai berikut:
SOHO: Rp39,5 per saham
PTPS: Rp4,5 per saham
TPMA: Rp42 per saham
TCID: Rp38 per saham
ASLC: Rp1 per saham
PPGL: Rp39,5 per saham
GEMS: Rp237,95 per saham
INET: Rp0,04 per saham
SRSN: Rp1,1 per saham
Selanjutnya pada hari Selasa 2 Juni 2026, terdapat 12 emiten yang dijadwalkan memasuki masa cum dividen. Beberapa di antaranya meliputi:
INDY: Rp10,25 per saham
STAA: Rp75 per saham
CPIN: Rp180 per saham
JSMR: Rp156,23 per saham
BFIN: Rp35 per saham
TOWR: Rp6,89 per saham
LFLO: Rp4,59 per saham
Pada hari Rabu 3 Juni 2026, jumlah emiten yang bersiap melaksanakan cum dividen bertambah menjadi 13 perusahaan. Emiten tersebut di antaranya adalah:
INTP: Rp468 per saham
KLBF: Rp20 per saham
MYOH: Rp64,31 per saham
RMKE: Rp30 per saham
KINO: Rp45 per saham
EMTK: Rp5 per saham
SCMA: Rp12 per saham
Sementara pada hari Kamis 4 Juni 2026, beberapa emiten yang juga menjadwalkan periode cum dividen antara lain:
SMAR: Rp270 per saham
GJTL: Rp80 per saham
NRCA: Rp40 per saham
TAPG: Rp91 per saham
PGAS: Rp125,61 per saham
SMCB: Rp36,52 per saham
BISI: Rp26 per saham
Daya tarik utama dari saham pembagi dividen biasanya diukur lewat persentase tingkat pengembaliannya.
Menurut data riset pasar, beberapa perusahaan mampu menyajikan potensi imbal hasil di atas rata-rata pasar yang biasanya berada pada rentang 3 persen hingga 5 persen.
Salah satu yang menyita perhatian pelaku pasar yaitu GEMS dengan pembagian tunai Rp237,95 per lembar.
Emiten pertambangan batu bara tersebut dinilai konsisten mendistribusikan dividen dalam jumlah besar dengan rasio pembayaran laba yang tinggi.
Selain itu, pergerakan saham PGAS ikut menjadi sorotan lantaran mengalokasikan sekitar 80 persen dari perolehan laba bersih tahun buku 2025 untuk dividen tunai.
Berdasarkan harga penutupan PGAS di angka Rp1.895 per saham pada 26 Mei 2026, perkiraan tingkat pengembalian dividennya menyentuh kisaran 6,63 persen.
Beberapa saham lain yang dianggap memiliki tingkat keuntungan menarik di antaranya:
INTP dengan perkiraan imbal hasil sekitar 9,7 persen
TPMA dengan perkiraan imbal hasil sekitar 8,3 persen
STAA dengan perkiraan imbal hasil sekitar 7,3 persen
GJTL dengan perkiraan imbal hasil sekitar 6,7 persen
Siklus pembagian dividen berkala ini mampu memicu sentimen positif bagi pergerakan pasar modal.
Walakin, faktor arus modal dari luar negeri, penyesuaian bobot indeks global, serta dinamika nilai tukar rupiah masih menjadi pendorong utama bagi arah pergerakan indeks saham domestik.
Investor diingatkan agar tidak melakukan pembelian saham semata-mata karena momentumnya sudah mendekati tanggal cum dividen.
Biasanya, harga saham berisiko mengalami penurunan signifikan ketika memasuki masa ex-date, minimal sebesar nilai dividen teoritisnya.
Maka dari itu, pelaku pasar disarankan tetap memilih instrumen yang punya fundamental bisnis kokoh, likuiditas transaksi tinggi, serta riwayat pembagian keuntungan yang konsisten.
Untuk keperluan strategi perdagangan jangka pendek, investor disarankan mulai mencicil pembelian saham yang diincar sekitar dua minggu sampai tujuh hari sebelum tanggal cum dividen.
Di sisi lain, saham seperti PGAS, INTP, JSMR, dan CPIN diklaim prospektif untuk diakumulasi saat harganya sedang terkoreksi.
Para pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap potensi jebakan dividen.
Kondisi ini rawan terjadi pada saham-saham yang kinerja bisnisnya mulai menurun namun menawarkan tingkat keuntungan dividen yang terlihat tinggi di permukaan.