Gerak IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas pada Perdagangan Jumat Ini
JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diproyeksi bakal berjalan fluktuatif dalam rentang yang sempit pada sesi perdagangan hari Jumat.
Kondisi tersebut terjadi karena para pelaku pasar diprediksi masih mencermati pergerakan nilai tukar mata uang rupiah, aliran modal dari investor asing, hingga situasi geopolitik internasional.
Pergerakan indeks saham domestik pada akhir pekan ini diperkirakan masih tertahan dalam area yang terbatas.
Laju indeks saham diprediksi bergerak dengan batas bawah atau support pada rentang 5.950 sampai 6.000, serta area batas atas atau resistance pada kisaran 6.200 hingga 6.286.
Faktor utama yang menjadi perhatian para pelaku pasar saat ini meliputi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar, pergerakan dana investor mancanegara, serta perkembangan kondisi politik dunia.
Secara analisis teknikal, performa indeks saham dalam negeri sebenarnya sudah memperlihatkan tanda-tanda pemulihan walaupun skalanya masih cukup terbatas.
Indikator Stochastic RSI memberikan sinyal adanya peluang pembalikan arah menuju titik pivot, ditambah dengan area negatif pada histogram MACD yang mulai mengalami penyempitan.
Melihat indikator teknikal tersebut, indeks saham berpotensi besar untuk bergerak dalam koridor angka 6.000 sampai 6.200.
Di sisi lain, tren penurunan nilai tukar rupiah disinyalir menjadi salah satu pemicu utama yang menahan laju penguatan indeks saham untuk jangka pendek.
"Depresiasi rupiah berpotensi menekan IHSG, meskipun sifatnya jangka pendek, dengan pergerakan indeks yang cenderung fluktuatif," ujarnya.
Penyebab merosotnya nilai tukar rupiah ini dipicu oleh perpaduan sentimen dari luar negeri maupun dalam negeri, seperti keperkasaan mata uang dolar AS, konflik geopolitik, hingga momentum penarikan dana dividen ke luar negeri oleh pemodal internasional.
"Jika pelemahan rupiah berlangsung agresif, biasanya diikuti oleh aksi jual bersih investor asing," katanya.
Ditambahkan pula bahwa deretan saham dari sektor perbankan dengan nilai kapitalisasi pasar yang besar berisiko menjadi motor pelemahan indeks karena porsinya yang sangat besar terhadap pergerakan pasar.
"Namun demikian, fundamental perbankan domestik masih solid, dengan margin bunga bersih dan permodalan yang tetap kuat," imbuhnya.
Melihat situasi pasar saat ini, para pelaku pasar diimbau untuk bertindak lebih cermat dan memprioritaskan tata kelola risiko yang matang.
"Fokus pada emiten berbasis ekspor, energi, serta saham defensif yang tidak bergantung pada bahan baku impor," jelasnya.
Sebagai catatan performa sebelumnya, indeks saham domestik terpaksa mendarat di zona merah pada sesi penutupan perdagangan hari Selasa lalu akibat besarnya gempuran sentimen eksternal serta maraknya aksi penarikan keuntungan sesaat sebelum datangnya hari libur.
Merujuk pada data pergerakan di lantai bursa, indeks saham mengalami kemerosotan sebesar 1,23 persen menuju ke posisi 6.130,19 setelah sebelumnya sempat merangkak naik pada pembukaan pasar.
Kejatuhan performa pasar saham ini utamanya didorong oleh aksi ambil untung oleh para investor bersamaan dengan adanya momentum penataan ulang bobot saham dalam indeks MSCI.