Harga Emas Dunia Merosot akibat Lonjakan Inflasi dan Suku Bunga AS

Ilustrasi Emas Dunia, Sumber: sumsel.idntimes.
Penulis: Aaina Salsa Bila
Kamis, 28 Mei 2026 | 09:35:54 WIB

JAKARTA - Harga emas dunia mengalami penurunan hingga menyentuh level terendah dalam waktu dua bulan terakhir pada perdagangan Rabu (27/5/2026). Komoditas ini tertekan oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, serta adanya spekulasi mengenai kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS.

Berdasarkan data pasar pada Kamis (28/5/2026), harga emas spot tercatat mengalami pelemahan sebesar 1,3% menjadi USD 4.447,71 per ons.

Dalam sesi perdagangan tersebut, nilai logam mulia ini bahkan sempat merosot ke titik terendah sejak 27 Maret 2026.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk masa pengiriman Juni ditutup menyusut sebesar 1,2% ke level USD 4.448,40 per ons.

Sejumlah pengamat menilai ketegangan geopolitik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran terus menjadi faktor utama yang memberikan tekanan pada pasar logam mulia.

Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah tersebut memicu lonjakan harga energi global, khususnya minyak mentah, yang pada akhirnya memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi.

Seorang analis menyatakan bahwa optimisme di pasar global mulai meredup karena konflik yang terus berjalan tanpa kepastian.

“Pengaruh terbesar masih berasal dari Timur Tengah. Sebelumnya masih ada sedikit optimisme, tetapi semakin lama konflik berlangsung, optimisme itu mulai menghilang,” ujarnya.

Menurut analisis tersebut, pertempuran yang terus berlanjut membuat pelaku pasar semakin cemas terhadap lonjakan inflasi secara global.

Penutupan jalur laut di Selat Hormuz juga berimbas pada melonjaknya harga minyak Brent, sehingga memperkuat dugaan bahwa bank sentral akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Saat ini pasar memperkirakan bahwa bank sentral AS berpotensi menaikkan suku bunga acuan mereka sebesar 25 basis poin sebelum pergantian tahun.

Situasi ini menjadi kabar kurang menguntungkan bagi komoditas emas karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga menjadi kurang kompetitif saat suku bunga melonjak naik.

Di sisi lain, pemerintah Iran mengabarkan bahwa pihak Teheran memiliki rencana untuk memulihkan kembali aktivitas pengiriman logistik melewati Selat Hormuz agar bisa kembali ke level sebelum terjadinya perang dalam kurun waktu satu bulan, sebagai bagian dari kesepakatan kerangka kerja bersama pihak AS.

Kabar mengenai pemulihan jalur laut tersebut sempat membantu komoditas emas untuk memangkas sebagian nilai kerugiannya.

Kendati demikian, para pelaku pasar saat ini masih tetap berfokus pada ancaman nyata dari inflasi yang diakibatkan oleh meroketnya harga komoditas energi.

Petinggi bank sentral menyatakan bahwa prioritas utama saat ini adalah fokus untuk mengendalikan risiko inflasi yang mulai merangkak naik, walaupun dinilai masih terlampau cepat untuk memproyeksikan perubahan pada kebijakan suku bunga ke depan.

Kini para investor juga sedang menantikan publikasi data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dijadwalkan rilis pada hari Kamis waktu setempat guna mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Selain komoditas emas, pergerakan harga pada sejumlah logam mulia lainnya terpantau bervariasi.

Harga perak spot tercatat mengalami penurunan sebesar 3,2% ke level USD 74,46 per ons.

Harga platinum juga melemah sebesar 2,1% menjadi USD 1.916,90 per ons.

Sedangkan harga palladium terpantau mengalami kenaikan tipis sebesar 0,1% ke level USD 1.386,47 per ons.

Reporter: Aaina Salsa Bila