Cek Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini Saat IHSG Berpotensi Menguat
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan berada di bawah tekanan yang cukup berat pada sesi perdagangan awal pekan ini, Senin, 25 Mei 2026. Pergerakan indeks saham diproyeksikan melanjutkan tren penurunan setelah mencatat performa yang kurang memuaskan pada pekan sebelumnya.
Berdasarkan analisis teknikal, indeks saham berpotensi bergerak menuju ke area 5.899 sebagai target koreksi lanjutan.
Para pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada karena tekanan jual di pasar modal dalam negeri dirasa masih cukup dominan sampai saat ini.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, indeks saham sebenarnya sempat mengalami penguatan tipis sebesar 1,10 persen ke level 6.162,04.
Kenaikan tersebut juga mulai diikuti dengan kehadiran volume pembelian yang memberikan sedikit ruang gerak bagi pasar.
Namun, jika melihat performa dalam sepekan, kondisi pasar modal masih belum stabil lantaran indeks saham sudah melemah hingga 8,35 persen.
Tekanan jual yang masif tersebut menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan indeks dalam jangka pendek.
Secara lebih mendalam, posisi indeks saham saat ini diperkirakan sedang berada dalam rangkaian gelombang koreksi menurut teori wave teknikal.
Penurunan ini diproyeksikan menjadi bagian dari wave [v] dari wave A pada label hitam yang sedang berlangsung.
Area koreksi selanjutnya akan menguji tingkat support terdekat. "Target penurunan berikutnya diperkirakan akan berada pada level 5.899," jelas tim analis dalam laporan harian mereka.
Untuk menunjang strategi investasi hari ini, berikut adalah rincian level krusial indeks saham yang perlu dipantau secara ketat:
Kategori BatasLevel Poin IHSGSupport Terdekat5.996Support Utama5.899Resistance 16.318Resistance 26.459
Data tersebut memperlihatkan rentang pergerakan yang berpotensi terjadi sepanjang hari ini di tengah fluktuasi pasar.
Tingkat resistance di kisaran 6.318 sampai 6.459 akan menjadi tantangan besar apabila indeks saham ingin kembali berbalik ke zona hijau.
Meski kondisi pasar cenderung mengalami penurunan, peluang pada beberapa emiten tertentu dinilai tetap ada.
Strategi beli saat melemah (buy on weakness) menjadi pilihan yang logis untuk menekan risiko di tengah ketidakpastian.
Berikut adalah daftar saham yang masuk ke dalam radar rekomendasi untuk diperdagangkan:
Astra International (ASII): Rekomendasi buy on weakness di kisaran 5.025–5.325 dengan target harga di 5.600 hingga 5.975. Batasi kerugian jika harga menembus di bawah 4.950.
Harum Energy (HRUM): Disarankan masuk pada area 730–775 setelah adanya sinyal volume pembelian. Target kenaikan dipasang pada level 850 dan 890 dengan stop loss di bawah 715.
Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT): Disarankan beli saat melemah di rentang 1.965–2.020. Target harga ditetapkan pada 2.120–2.220 dan waspadai penurunan di bawah 1.945.
J Resources Asia Pasifik (PSAB): Direkomendasikan untuk trading buy di area 394–416 menyusul lonjakan signifikan sebelumnya. Target profit berada di 446–472 dengan batas bawah di 384.
Pilihan saham di atas didasarkan pada formasi teknikal masing-masing emiten yang memperlihatkan indikasi akumulasi atau jenuh jual.
Investor tetap diminta untuk disiplin dalam menerapkan batas stop loss demi memproteksi modal.
Kinerja pasar saham sepanjang periode 18 sampai 22 Mei 2026 terpantau cukup mengkhawatirkan dengan penurunan kumulatif sebesar 8,35 persen.
Penutupan indeks saham di level 6.162,04 mencerminkan aksi jual yang masif, khususnya dari pemodal asing.
Dampak nyata dari koreksi tajam ini turut memengaruhi nilai pasar, di mana kapitalisasi pasar modal Indonesia mengalami penyusutan yang sangat signifikan.
Berikut data statistik mengenai kondisi pasar modal selama sepekan terakhir:
Penyusutan Market Cap: Nilai kapitalisasi pasar turun 10,07 persen menjadi Rp10.635 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp11.825 triliun.
Nilai Transaksi: Rata-rata nilai transaksi harian justru melonjak 15,68 persen menjadi Rp21,77 triliun.
Volume Perdagangan: Jumlah saham yang berpindah tangan meningkat 2,53 persen menjadi rata-rata 36,67 billion lembar per hari.
Frekuensi Transaksi: Terjadi penurunan frekuensi sebesar 6,5 persen menjadi rata-rata 2,37 juta kali transaksi setiap harinya.
Dari data tersebut terdapat fenomena unik, di mana volume dan nilai transaksi mengalami kenaikan namun frekuensinya justru menurun.
Hal ini menandakan bahwa transaksi dengan nilai nominal besar sedang menguasai aktivitas perdagangan di lantai bursa.
Tekanan pasar kian berat seiring dengan konsistensi investor asing yang terus melakukan penarikan dana dari pasar saham dalam negeri.
Pada akhir perdagangan pekan lalu, investor asing mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp309,52 miliar.
Jika diakumulasikan sepanjang tahun berjalan (year-to-date) 2026, total dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah menembus angka Rp41,63 triliun.
Tren tersebut menjadi salah satu pemicu negatif utama yang menahan laju pemulihan indeks saham dalam beberapa bulan terakhir.
Para pelaku pasar diharapkan tetap memantau perkembangan makroekonomi dan sentimen global yang dapat memengaruhi arah pergerakan indeks.
Keputusan investasi harus tetap disesuaikan dengan profil risiko masing-masing lewat pertimbangan yang matang.