Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp18.000 per Dolar AS Jangka Pendek
JAKARTA - Tekanan terhadap nilai tukar mata uang garuda diperkirakan masih akan terus berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Faktor utama yang membayangi pergerakan ini meliputi penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS), lonjakan harga minyak mentah dunia, serta memanasnya tensi geopolitik global.
Indeks dolar AS (DXY) tercatat berada di level 99,23 pada Jumat, 22 Mei 2026. Pada waktu yang sama, nilai tukar mata uang domestik di pasar spot merosot ke posisi Rp17.717 per dolar AS.
Tren penguatan mata uang paman sam tersebut diperkirakan masih akan terus berlanjut pada pekan ini. Pergerakan indeks dolar AS diproyeksikan berada pada rentang support 97,60 dan resistance 101,00.
“Prediksinya seperti beberapa minggu terakhir, DXY masih cenderung mengalami penguatan,” ujar pengamat pasar.
Penguatan mata uang asing tersebut dinilai akan semakin membebani pergerakan nilai tukar domestik. Bahkan, kondisi ini berpotensi mendorong kurs mendekati level Rp18.000 per dolar AS dalam jangka pendek.
Faktor penekan lain yang perlu diwaspadai juga datang dari dinamika pasar energi global saat ini.
Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan akan bergerak pada rentang support US$92,60 per barel hingga resistance US$105,50 per barel.
Lonjakan harga komoditas energi ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik yang kembali memanas, khususnya pertempuran Rusia–Ukraina yang menyasar fasilitas energi dan kilang minyak.
Selain konflik tersebut, ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah hingga saat ini juga masih terus menyita perhatian para pelaku pasar global.
“Israel masih melakukan penyerangan ke Lebanon Selatan dan Jalur Gaza sehingga memicu kembali kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah,” kata pengamat.
Perkembangan proses negosiasi antara pihak AS dan Iran mengenai potensi pembukaan Selat Hormuz juga terus dipantau secara ketat.
Kesepakatan yang nantinya tercapai dalam negosiasi tersebut dinilai dapat memengaruhi arah pergerakan harga minyak bumi serta komoditas emas dunia.
Melihat dari sisi domestik, pelemahan mata uang ini dianggap tidak hanya disebabkan oleh faktor teknikal atau kebijakan moneter semata, melainkan karena masalah struktural ekonomi nasional.
Salah satu hal yang menjadi sorotan utama adalah kondisi defisit neraca transaksi berjalan yang sampai saat ini masih sangat bergantung pada aktivitas impor energi.
“Akar masalah pelemahan rupiah adalah defisit transaksi berjalan yang bersifat struktural, bukan temporer,” ujarnya.
Volume impor minyak mentah ke dalam negeri yang menyentuh angka kisaran 1,5 juta barel per hari turut meningkatkan kebutuhan pasokan dolar AS di pasar domestik.
Ketergantungan yang tinggi terhadap impor sektor energi membuat mata uang domestik menjadi sangat sensitif saat harga minyak dunia melonjak serta dolar AS menguat.
Situasi yang terjadi saat ini juga dinilai berpotensi besar menambah beban pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pemerintah sendiri sebelumnya telah menetapkan asumsi untuk APBN 2026 dengan angka nilai tukar sebesar Rp16.500 per dolar AS dan harga minyak senilai US$70 per barel.
“Ketika harga minyak berada di atas US$90 per barel, pemerintah membutuhkan tambahan anggaran yang cukup besar,” pungkasnya.