Kurs Dolar AS Hari Ini Berpotensi Tekan Pergerakan Rupiah ke 17.750

Ilustrasi Rupiah dan Dolar AS, Sumber: (NET).
Penulis: Aaina Salsa Bila
Kamis, 21 Mei 2026 | 09:31:36 WIB

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar mata uang garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bakal berfluktuasi dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini, Kamis (21/5/2026). Nilai tukar domestik diperkirakan bergerak di rentang sensitif antara level Rp17.600 sampai Rp17.750 per dolar AS.

Kondisi tersebut terjadi setelah performa positif pada hari sebelumnya, Rabu (20/5/2026), saat mata uang dalam negeri ditutup menguat 0,48 persen.

Berdasarkan data pasar, penguatan tersebut membuat mata uang nasional mendarat di posisi Rp17.629 per dolar AS.

Tren penguatan mata uang lokal sebelumnya selaras dengan kondisi mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga memperlihatkan keunggulan terhadap dolar AS.

Yuan China dilaporkan menguat 0,13 persen, sementara won Korea Selatan ikut naik tipis 0,06 persen.

Dolar Taiwan mengalami peningkatan nilai sebesar 0,11 persen, diikuti oleh ringgit Malaysia yang menguat hingga 0,18 persen terhadap dolar AS.

Walau demikian, tidak semua mata uang regional bergerak searah dalam tren kenaikan tersebut.

Baht Thailand justru terpantau mengalami penurunan tipis sebesar 0,06 persen, sedangkan peso Filipina juga melemah sekitar 0,03 persen.

Di sisi lain, rupee India memperoleh tekanan yang cukup dalam dengan pelemahan sebesar 0,34 persen.

Sementara itu, beberapa mata uang utama lainnya seperti yen Jepang, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong cenderung bergerak stagnan.

Stabilitas ini terlihat di tengah dinamika pasar global yang terus berubah sepanjang hari perdagangan kemarin.

Ketahanan mata uang dalam negeri yang mampu menutup perdagangan di zona hijau menjadi sorotan, lantaran penguatan ini terjadi justru saat indeks dolar AS (DXY) masih menunjukkan tren kenaikan yang kuat.

Daya tahan mata uang domestik kali ini banyak ditopang oleh bermacam sentimen positif dari dalam negeri.

Kebijakan pemerintah dalam mengelola anggaran menjadi salah satu faktor kunci yang diperhatikan oleh para pelaku pasar global.

Beberapa faktor utama yang mendasari pergerakan nilai tukar mata uang nasional saat ini antara lain adalah:

Keputusan agresif Bank Indonesia dalam menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas pasar.

Kebijakan fiskal pemerintah yang fokus pada efisiensi anggaran belanja negara tahun berjalan.

Sentimen positif dari pemangkasan alokasi dana untuk program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Peningkatan daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing akibat selisih suku bunga yang kompetitif.

Langkah pemerintah menerapkan efisiensi fiskal dinilai menjadi sinyal kuat bahwa pengelolaan keuangan nasional tetap terjaga dengan disiplin tinggi.

Hal ini memberikan rasa aman bagi para investor untuk tetap menempatkan modal mereka di pasar keuangan Indonesia.

Dari sisi moneter, Bank Indonesia mengambil langkah berani dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps).

Kebijakan ini dianggap sangat efektif untuk meredam tekanan eksternal sekaligus menjaga minat terhadap instrumen investasi dalam negeri.

Meskipun indeks dolar AS terus melaju kencang, sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter terbukti mampu menjaga stabilitas mata uang lokal.

Kombinasi pro-stabilitas inilah yang membuat nilai tukar dalam negeri tetap kompetitif di mata dunia.

Namun, kendati faktor domestik sangat mendukung, dinamika eksternal tetap tidak boleh diabaikan.

Kondisi ekonomi global masih menjadi risiko utama yang bisa memengaruhi arus modal keluar sewaktu-waktu.

Berikut adalah rincian perbandingan kinerja mata uang Asia terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan terakhir:

Rupiah Indonesia berubah sebesar +0,48% dengan status menguat terhadap dolar AS.

Yuan China berubah sebesar +0,13% dengan status menguat terhadap dolar AS.

Ringgit Malaysia berubah sebesar +0,18% dengan status menguat terhadap dolar AS.

Rupee India berubah sebesar -0,34% dengan status melemah terhadap dolar AS.

Baht Thailand berubah sebesar -0,06% dengan status melemah terhadap dolar AS.

Data tersebut menunjukkan bahwa mata uang Indonesia mencatatkan kenaikan yang paling signifikan dibandingkan rekan sejawatnya di Asia.

Hal ini mencerminkan optimisme pasar terhadap kebijakan ekonomi yang diambil oleh otoritas keuangan di Indonesia.

Di tengah situasi pasar saat ini, Presiden Prabowo Subianto juga telah menyampaikan proyeksi jangka panjang terkait nilai tukar.

Ia menargetkan kurs mata uang nasional akan berada di level yang lebih stabil dalam beberapa tahun ke depan.

Target tersebut disampaikan dalam dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM & PPKF) di Gedung DPR, Jakarta.

Presiden memproyeksikan nilai tukar bisa menyentuh angka Rp16.800 hingga Rp17.500 pada tahun 2027 mendatang.

Presiden Prabowo menyampaikan hal tersebut secara langsung dalam Rapat Paripurna yang dihadiri oleh seluruh jajaran anggota MPR dan DPR.

Ia menekankan pentingnya stabilitas nilai tukar sebagai fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Lebih lanjut, Presiden memastikan bahwa pemerintah akan terus menyelaraskan strategi fiskal dengan kebijakan moneter yang dijalankan Bank Indonesia.

Upaya kolaboratif ini bertujuan agar nilai tukar mata uang domestik tidak mengalami gejolak yang terlalu tajam.

Para pelaku usaha menyambut baik komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas ini, meski ada kekhawatiran terkait biaya operasional.

Sektor konstruksi, misalnya, memprediksi kenaikan biaya proyek hingga 15 persen jika pelemahan terus berlanjut.

Di sisi lain, sektor riil seperti importir kedelai juga berupaya menjaga harga di tengah tekanan kurs yang tidak menentu.

Hal ini dilakukan guna mencegah kenaikan harga pangan yang bisa berdampak langsung pada daya beli masyarakat luas.

Kini pasar menanti langkah-langkah selanjutnya dari otoritas terkait dalam menghadapi tantangan ekonomi di sisa kuartal tahun ini.

Dengan kondisi cadangan devisa yang kuat, diharapkan mata uang dalam negeri memiliki bantalan yang cukup untuk menahan depresiasi lebih lanjut.

Reporter: Aaina Salsa Bila