Rupiah Hari Ini Berpotensi Melemah di Kisaran Rp17.600 Sampai Rp17.750

Ilustrasi Rupiah dan Dolar AS, Sumber: bareksa.
Penulis: Aaina Salsa Bila
Rabu, 20 Mei 2026 | 10:27:30 WIB

JAKARTA - Pergerakan kurs mata uang rupiah terhadap dolar AS pada sesi perdagangan hari ini diperkirakan bergerak fluktuatif namun rentan ditutup di zona merah. Mata uang Indonesia ini diproyeksikan bergulir pada kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.

Melalui catatan pasar, pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup turun sebesar 0,22 persen ke level Rp17.700 per dolar AS.

Tren penurunan ini sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia yang ikut tak bertenaga di hadapan dolar AS.

Mata uang yen Jepang terpantau turun 0,22 persen, yuan China melemah 0,05 persen, dan dolar Singapura merosot 0,22 persen.

Selanjutnya, won Korea melempem 1,24 persen, dolar Hong Kong turun 0,03 persen, serta dolar Taiwan terkoreksi sebesar 0,33 persen.

Penurunan serupa juga melanda rupee India sebesar 0,10 persen, ringgit Malaysia 0,03 persen, peso Filipina 0,20 persen, dan mata uang baht Thailand yang melemah sebesar 0,31 persen.

Walau eskalasi geopolitik global dilaporkan mulai mereda, tekanan dari sentimen domestik dinilai masih membebani laju mata uang garuda.

Pasar saham domestik saat ini sedang tertekan akibat aksi lepas saham oleh para investor. Kondisi tersebut memicu ruang penguatan bagi mata uang rupiah menjadi amat terbatas.

Fokus para pelaku pasar kini tertuju pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia esok hari.

Bank sentral diperkirakan akan mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Kebijakan menaikkan suku bunga tersebut dipandang krusial demi memelihara stabilitas nilai tukar rupiah serta meredam gejolak di pasar keuangan.

Selain menanti angka suku bunga, para investor juga menunggu pernyataan dari Bank Indonesia.

Pernyataan itu diharapkan mampu mengembalikan optimisme pasar terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.

Langkah Bank Indonesia yang cenderung mengetat atau hawkish diyakini bisa menjadi katalis positif untuk mendongkrak rupiah dalam jangka pendek.

Di sisi lain, Menteri Keuangan menyatakan bahwa tekanan aksi jual pada pasar Surat Berharga Negara saat ini terbilang minim dan masih berada dalam batas aman.

Kementerian Keuangan mengonfirmasi telah mengalokasikan dana minimal Rp2 triliun per hari untuk mengeksekusi aksi beli kembali atau buyback SBN di pasar sekunder.

Kendati demikian, realisasi penyerapan dana dari target yang telah ditetapkan tersebut rupanya masih sangat jauh di bawah anggaran.

"Kemarin saja saya sudah targetkan serap Rp2 triliun, [tetapi] hanya dapat Rp600 miliar. Artinya, yang jual juga sedikit sebetulnya. Jadi kami memastikan harga bond [obligasi] tetap terkendali itu," ujarnya.

Intervensi di pasar obligasi dalam negeri ini terpaksa dilakukan lantaran masih adanya arus modal asing yang keluar atau capital outflow dari instrumen SBN.

Sesuai data yang dihimpun semenjak awal tahun hingga 24 April 2026, total modal asing yang keluar dari pasar SBN telah menembus angka Rp20 triliun.

Reporter: Aaina Salsa Bila