Kurs Rupiah 18 Mei 2026 Berpotensi Melemah ke Rp17.650 per Dolar AS

Ilustrasi Uang (sumber foto: NET)
Senin, 18 Mei 2026 | 10:54:28 WIB

JAKARTA - Proyeksi pergerakan mata uang rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan yang cukup besar pada pembukaan perdagangan Senin, 18 Mei 2026.

Situasi ini terjadi lantaran kuatnya pengaruh sentimen eksternal yang terus menyokong kekuatan dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan laporan dari data Bloomberg, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat sebesar 0,47 persen ke posisi 99,28 pada akhir perdagangan Jumat, 15 Mei 2026.

Dampaknya, nilai tukar rupiah terkoreksi 0,39 persen ke angka Rp17.597 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) berada di level Rp17.496 per dolar AS pada Rabu, 13 Mei 2026.

Seorang pengamat pasar modal yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy, memaparkan situasi tersebut.

Ia menjelaskan bahwa penurunan nilai mata uang Garuda di akhir pekan lalu disebabkan oleh kombinasi beberapa sentimen global.

Hal itu mencakup keperkasaan greenback, kenaikan yield obligasi AS, serta sikap waspada dari para pelaku pasar dunia saat ini.

"Pelemahan rupiah pada Jumat terutama dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi AS, dan sentimen risk-off global," ujar Budi, Minggu, 17 Mei 2026.

Budi menyebutkan bahwa mayoritas mata uang di wilayah Asia juga ikut melemah terhadap dolar AS.

Pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026, nilai mata uang Indonesia diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp17.500 hingga Rp17.650 per dolar AS dengan kecenderungan yang masih melempem.

"Biasanya masih cenderung melemah. Jika tekanan dolar, harga minyak, dan arus keluar asing berlanjut, rupiah bisa menguji area Rp17.600–Rp17.650. Namun jika ada intervensi BI yang kuat atau sentimen global membaik, rupiah bisa tertahan mendekati Rp17.500–Rp17.550,” kata Budi.

Sejumlah faktor krusial yang mengontrol fluktuasi kurs pada awal pekan ini antara lain pergerakan indeks dolar AS serta tingkat imbal hasil US Treasury.

Selain itu, nilai minyak mentah dunia hingga memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah turut menjadi pemicu utama.

"Jika harga minyak tetap tinggi, rupiah masih rentan karena pasar akan menghitung risiko inflasi impor dan tekanan fiskal," ujar Budi.

Dari sektor domestik, perhatian pasar tersorot pada langkah stabilisasi keuangan yang dilakukan Bank Indonesia.

Langkah ini termasuk memantau pergerakan modal asing di pasar saham lokal dan instrumen Surat Berharga Negara (SBN).

Berdasarkan analisis Budi, penanam modal pun sedang mengamati dampak sentimen MSCI yang berisiko memicu keluarnya modal asing dari dalam negeri.

Di sisi lain, Bank Indonesia dari jauh hari sudah menyatakan komitmennya untuk mengawal stabilitas nilai tukar rupiah.

Upaya pengawalan ini dijalankan lewat langkah intervensi di pasar domestik maupun pasar offshore.

"Jadi, rupiah pada Senin kemungkinan masih defensif, kecuali ada katalis positif dari pelemahan dolar AS," tutupnya.

Reporter: Diaz Muhammad Hanif