MSCI Umumkan Rebalancing Mei 2026 dan Coret 18 Saham dari Indeks Global

ILUSTRASI msci (sumber foto: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 13 Mei 2026 | 13:05:55 WIB

JAKARTA - Morgan Stanley Capital International (MSCI) telah secara resmi memublikasikan hasil tinjauan berkala atau index review untuk periode Mei 2026 pada Rabu (13/5). Pengumuman ini dinilai cukup mengejutkan lantaran hasilnya berbeda jauh dari proyeksi sebelumnya.

Dalam proses rebalancing paling baru ini, lembaga penyedia indeks global asal Amerika Serikat tersebut memutuskan untuk mendepak enam saham dari MSCI Global Standard Indexes. Daftar enam emiten yang keluar tersebut mencakup AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT.

Meskipun harus keluar dari kategori MSCI Global Standard Indexes, pihak MSCI Inc. mengambil kebijakan untuk memindahkan posisi saham AMRT ke dalam kelompok MSCI Small Cap Indexes. Langkah ini menjadi bagian dari penyesuaian bobot investasi global.

Di sisi lain, MSCI juga menetapkan penghapusan 13 saham dari MSCI Small Cap Indexes. Saham yang keluar meliputi ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, TKIM, APIC, SSMS, TPAG, serta emiten media MSIN.

Pihak MSCI menjelaskan bahwa seluruh perubahan indeks ini mulai berlaku setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026. Sementara itu, efektivitas perubahan secara menyeluruh akan dimulai pada tanggal 1 Juni 2026 mendatang.

Kegiatan rebalancing yang dilakukan MSCI selalu menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar. Hal ini dikarenakan perubahan komposisi dapat memengaruhi pergerakan dana investor dunia, terutama dari institusi besar yang menggunakan indeks ini sebagai standar investasi.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sempat memberikan sinyal terkait adanya potensi saham asal Indonesia yang bakal terdepak dari indeks MSCI pada periode Mei 2026 ini melalui mekanisme rebalancing global.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi menyebutkan, dalam proses evaluasi indeks MSCI kali ini memang terdapat kemungkinan saham Indonesia mengalami penyesuaian. Ia menilai hal tersebut adalah fenomena yang wajar dalam pasar modal.

“Kan kemungkinan ada saham yang akan disesuaikan ya. Ini namanya rebalancing index kan. Jadi ya kalaupun besok pengumumannya kami tunggu, kan mereka udah bilang freeze kan, jadi enggak ada yang baru yang masuk, tapi yang lama mungkin akan keluar,” ujar Friderica.

Saham BREN dan DSSA menjadi dua emiten yang paling banyak diperbincangkan dalam evaluasi kali ini. Keduanya masuk dalam radar pantauan karena tingkat konsentrasi kepemilikan saham yang dianggap terlalu tinggi oleh lembaga indeks internasional.

Kondisi kepemilikan saham yang terkonsentrasi tersebut dinilai memberikan risiko pada sisi likuiditas. Selain itu, aspek aksesibilitas investasi juga menjadi pertimbangan utama mengapa saham-saham tersebut mendapatkan evaluasi ketat dari MSCI.

Reporter: Moch Febrianto