Dampak Dolar AS Menguat, Rupiah Tembus Rp17.500 pada 13 Mei 2026

Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah Melemah, Sumber (NET).
Penulis: Aaina Salsa Bila
Rabu, 13 Mei 2026 | 09:23:44 WIB

JAKARTA - Nilai tukar rupiah diprediksi tetap berada di bawah tekanan pada sesi perdagangan Rabu (13/5/2026). Hal ini terjadi setelah rupiah ditutup pada posisi yang melewati level psikologis Rp17.500 per dolar AS sehari sebelumnya, dipicu oleh penguatan mata uang dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian secara global.

Berdasarkan data RTI Infokom, pada Selasa (12/5/2026), rupiah merosot 0,66% atau turun 115 poin ke angka Rp17.529 per dolar AS. Di waktu yang sama, indeks dolar AS tercatat naik 0,31% menuju level 98,25.

Tiffani Safinia, Research and Development ICDX, menjelaskan bahwa terlemparnya rupiah ke atas Rp17.500 merupakan dampak dari gabungan tekanan domestik serta eksternal. Secara global, dolar AS terus menguat akibat ekspektasi bahwa suku bunga The Fed yang tinggi akan bertahan lebih lama.

"Selain itu, ada peningkatan permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan tekanan terhadap rupiah. Pasar juga masih menunggu arah inflasi AS yang akan menentukan ekspektasi kebijakan moneter The Fed ke depan," ujarnya.

Dari sisi internal, pelemahan mata uang Garuda juga dipengaruhi oleh arus modal asing serta pandangan investor pada pasar keuangan nasional. Isu terkait MSCI yang menyoroti struktur pasar modal dan transparansi di Indonesia turut memicu sikap waspada dari investor global.

Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai kapasitas fiskal, beban subsidi saat nilai tukar melemah, serta tingginya kebutuhan dolar AS untuk melunasi utang luar negeri perusahaan pada bulan April hingga Mei.

Tiffani menambahkan bahwa dampak dari penurunan nilai rupiah ini perlu diwaspadai, khususnya pada inflasi barang impor (imported inflation). Hal ini berisiko menaikkan biaya energi, bahan baku, serta barang konsumsi, yang perlahan akan mengerek harga di dalam negeri.

Tekanan juga mengancam APBN karena beban pembayaran utang valas dan subsidi energi yang membengkak. Bagi perusahaan yang berpendapatan rupiah namun memiliki utang dolar AS, situasi ini dapat menekan biaya operasional dan arus kas.

"Namun demikian, pelemahan rupiah juga memberikan sisi positif terbatas bagi sektor berorientasi ekspor karena meningkatkan daya saing harga produk ekspor Indonesia. Selain itu, Bank Indonesia masih memiliki ruang stabilisasi melalui intervensi pasar valas, optimalisasi instrumen moneter, serta penguatan kebijakan pengendalian permintaan dolar AS domestik," jelasnya.

Secara garis besar, pergerakan rupiah saat ini lebih didominasi oleh arus modal jangka pendek dan sentimen global. Selama kebijakan suku bunga AS belum stabil dan tensi geopolitik masih tinggi, volatilitas rupiah diprediksi tetap besar.

Sementara itu, Trading Economics memproyeksikan rupiah berada di angka Rp17.388 pada akhir kuartal II/2026, meski berisiko melemah lebih jauh di akhir tahun.

"Rupiah Indonesia diperkirakan akan melemah hingga pertengahan 2026, dengan perkiraan menunjukkan di kisaran Rp17.300 sampai lebih dari Rp17.500 per dolar AS pada akhir 2026," sebut laporan tersebut.

Reporter: Aaina Salsa Bila