OJK Sebut Gerak IHSG Kini Lebih Sehat dan Berbasis Fundamental

ilustrasi outflow modal asing
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 06 Mei 2026 | 21:44:07 WIB

JAKARTA – Dinamika yang terjadi di lantai bursa belakangan ini menunjukkan sebuah fenomena menarik di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai memperlihatkan pola pergerakan yang jauh lebih terukur. Perubahan ini tidak luput dari pengamatan regulator yang melihat adanya pergeseran ke arah pasar modal yang lebih matang dan stabil.

Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyampaikan bahwa saat ini posisi indeks nasional sudah mulai bergerak searah dengan berbagai indeks acuan utama lainnya. Keselarasan tersebut dianggap sebagai sinyal positif bahwa pasar saham Indonesia sedang berada dalam jalur yang lebih kredibel dibandingkan periode sebelumnya.

“Kalau diperhatikan, sekarang pergerakan IHSG sudah inline dengan indeks seperti LQ45 dan IDX30,” kata Friderica di Istana Negara, sebagaimana diberitakan oleh sumbernya, Selasa (5/5/2026).

Friderica Widyasari Dewi berpendapat bahwa adanya kesesuaian gerak antar indeks tersebut merupakan cerminan nyata dari perubahan perilaku para pelaku pasar dalam bertransaksi. Kondisi ini secara tidak langsung meminimalisir adanya fluktuasi yang tidak wajar pada saham-saham tertentu yang seringkali meresahkan investor.

Menurut pandangan perempuan yang akrab disapa Kiki tersebut, saham-saham di bursa kini tidak lagi bergerak secara liar tanpa alasan yang jelas. Alur pergerakan harga saat ini dinilai jauh lebih patuh pada performa serta fundamental yang dimiliki oleh masing-masing emiten di pasar.

Di tengah optimisme tersebut, pihak regulator memang tidak menutup mata terhadap masih kuatnya tekanan dari sisi eksternal yang melanda pasar domestik. Fenomena arus keluar modal asing atau outflow masih menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh industri keuangan tanah air hingga saat ini.

Friderica menjelaskan bahwa fenomena ini lebih dipengaruhi faktor global, terutama kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan lebih lama oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve System. Ketidakpastian arah kebijakan moneter di tingkat global memang selalu memberikan efek domino terhadap pasar negara berkembang termasuk Indonesia.

“Tekanan global seperti geopolitik dan kebijakan ‘higher for longer’ dari The Fed memang memicu outflow. Tapi selama fundamental kita kuat, ini bisa berbalik,” ujarnya, menurut sumber tersebut, pada Selasa (5/5/2026).

Kiki meyakini bahwa kondisi ekonomi nasional yang tetap kokoh akan menjadi daya tarik tersendiri yang mampu memutar balik arah arus modal di masa depan. Ketahanan ekonomi domestik dipandang sebagai benteng utama dalam menghadapi gejolak geopolitik yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia.

Otoritas Jasa Keuangan sendiri terus berupaya melakukan berbagai langkah strategis untuk membenahi iklim investasi di Indonesia agar semakin kompetitif. Berbagai kebijakan baru mulai diterapkan demi meningkatkan level kepercayaan para pemilik modal dari kancah internasional.

Upaya pembenahan tersebut secara spesifik mencakup peningkatan transparansi data pemegang saham secara lebih mendalam dan terbuka. Kini, data kepemilikan saham telah dibuka hingga ke level 1 persen untuk memastikan penyajian informasi yang lebih mendetail bagi publik.

Selain itu, transparansi juga ditingkatkan melalui pengungkapan informasi mengenai siapa sebenarnya pemilik manfaat terakhir atau ultimate beneficial owner dari sebuah perusahaan. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa tidak ada profil yang tersembunyi di balik kepemilikan saham sebuah emiten yang melantai di bursa.

Regulator juga secara aktif memperkuat aspek likuiditas pasar melalui aturan mengenai jumlah saham beredar di masyarakat. Kebijakan ini mewajibkan setiap perusahaan publik untuk memenuhi ketentuan free float minimal di atas 15 persen yang dilakukan secara bertahap.

Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi menilai bahwa serangkaian langkah pembenahan ini merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan pasar modal jangka panjang. Tanpa adanya transparansi dan likuiditas yang baik, sulit bagi pasar modal Indonesia untuk bersaing dengan bursa-bursa besar di tingkat regional.

Fokus pada fundamental emiten diharapkan dapat menciptakan ekosistem investasi yang sehat bagi para investor ritel maupun institusi. Dengan demikian, fluktuasi IHSG nantinya akan murni mencerminkan nilai ekonomi yang dihasilkan oleh korporasi-korporasi di bawah naungannya.

Keselarasan IHSG dengan indeks LQ45 dan IDX30 menjadi bukti awal bahwa emiten-emiten dengan kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi kembali menjadi penggerak utama. Hal ini sangat krusial untuk memberikan rasa aman bagi para pengelola dana besar dalam menempatkan aset mereka di Indonesia.

Melalui koordinasi yang intensif dengan berbagai pihak, OJK optimis bahwa tantangan global yang ada saat ini dapat dilewati dengan baik. Kepercayaan investor global tetap menjadi prioritas utama yang terus dipupuk melalui reformasi regulasi yang berkelanjutan dan transparan.

Kiki menekankan bahwa penguatan fundamental harus berjalan beriringan dengan pengawasan yang ketat terhadap setiap aktivitas di pasar modal. Setiap regulasi yang diluncurkan bertujuan untuk melindungi kepentingan semua pihak dan menjaga integritas pasar keuangan secara menyeluruh.

Pasar yang sehat dan transparan pada akhirnya akan membentuk citra positif bagi perekonomian Indonesia di mata dunia. Kondisi IHSG yang kini lebih stabil dan sejalan dengan indeks fundamental memberikan harapan baru bagi masa depan investasi di tanah air.

Demikian laporan mengenai kondisi terkini pasar modal yang disampaikan langsung oleh pimpinan tertinggi Otoritas Jasa Keuangan. Semua langkah ini diharapkan mampu membawa IHSG mencapai rekor-rekor baru yang didasari oleh kekuatan ekonomi yang riil.

Reporter: Moch Febrianto