Strategi Asing Koleksi Saham Blue Chip Saat IHSG Tembus Level 7.000

ilustrasi investor asing
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 06 Mei 2026 | 21:44:07 WIB

JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan taringnya dengan konsistensi berada di zona hijau dalam dua hari perdagangan terakhir secara beruntun. Momentum penguatan ini membawa optimisme baru bagi para pelaku pasar yang mengamati pergerakan indeks di papan perdagangan utama.

Pada penutupan perdagangan Selasa (5/5/2026), indeks ditutup melesat 1,22% ke level 7.057,11. Kenaikan yang cukup signifikan ini mencerminkan adanya gairah beli yang kuat dari para investor lokal maupun institusi di tengah fluktuasi global.

Aktivitas perdagangan di bursa terpantau sangat dinamis dengan volume yang cukup besar mengisi catatan transaksi harian. Nilai transaksi mencapai Rp23,9 triliun, melibatkan 43,92 miliar saham dalam 2,42 juta kali transaksi.

Partisipasi emiten dalam pergerakan kali ini terlihat cukup merata antara yang mengalami kenaikan dan penurunan harga. Sebanyak 342 saham naik, 314 turun, dan 163 tidak bergerak hingga bel penutupan dibunyikan oleh otoritas bursa.

Meskipun angka indeks menunjukkan performa yang impresif, terdapat catatan penting mengenai perilaku pemodal dari luar negeri. Investor asing terpantau masih gencar melakukan penjualan bersih, tembus Rp518,39 miliar di seluruh pasar.

Tekanan jual ini menyebar di berbagai segmen pasar, mulai dari pasar reguler hingga pasar negosiasi yang bersifat privat. Perinciannya, sebesar Rp317,94 miliar di pasar reguler dan sebesar Rp200,44 miliar di pasar negosiasi dan tunai.

Menariknya, aksi jual bersih secara total tersebut tidak menghalangi investor asing untuk tetap mengoleksi beberapa saham pilihan secara selektif. Fenomena ini seringkali disebut sebagai strategi "cherry picking" di mana asing hanya masuk pada saham-saham dengan fundamental yang mereka anggap kokoh.

Sejumlah emiten dari sektor perbankan dan infrastruktur terpantau menjadi sasaran utama aliran dana masuk meskipun pasar secara umum sedang ditekan aksi jual. Berdasarkan data Stockbit, terlihat jelas preferensi asing yang masih sangat kuat pada perusahaan-perusahaan berkapitalisasi pasar besar.

Posisi pertama dalam daftar belanja asing ditempati oleh bank pelat merah dengan nilai transaksi yang sangat dominan. "PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) - Rp244,52 miliar," tulis laporan tersebut sebagaimana dilansir dari sumbernya, Selasa (05/05).

Saham perbankan memang selalu menjadi indikator utama bagi kepercayaan investor global terhadap stabilitas ekonomi nasional secara makro. Selain perbankan, sektor energi dan industri dasar juga menarik perhatian besar dari para pengelola dana luar negeri tersebut.

"PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) - Rp138,09 miliar," ungkap data tersebut sebagaimana diberitakan oleh sumbernya mengenai aliran modal di pasar saham. Kekuatan modal pada saham ini menunjukkan adanya ekspektasi positif terhadap prospek bisnis grup besar di Indonesia.

Sektor properti dan perhotelan yang biasanya bergerak lebih lambat, kali ini justru memberikan kejutan dengan masuk ke dalam daftar sepuluh besar. "PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) - Rp50,75 miliar," jelas pengumuman tersebut menurut sumber tersebut yang memantau pergerakan bursa harian.

Kenaikan minat pada sektor pendukung pariwisata ini bisa menjadi sinyal awal pemulihan sektor riil yang mulai dilirik kembali oleh pemilik modal. Tren serupa juga terlihat pada saham-saham properti lainnya yang mulai menunjukkan peningkatan akumulasi oleh pihak asing secara bertahap.

"PT DMS Propertindo Tbk. (KOTA) - Rp44,75 miliar," sebut rilis data transaksi itu sebagaimana dilansir dari sumbernya untuk periode perdagangan yang sama. Hal ini memberikan warna berbeda pada komposisi portofolio asing yang biasanya hanya didominasi oleh sektor keuangan saja.

Kembali ke sektor perbankan, emiten besar lainnya juga terpantau tidak luput dari pantauan radar beli para investor internasional. "PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) - Rp28,84 miliar," tambah laporan pasar itu sebagaimana diberitakan oleh sumbernya secara mendalam.

Keberadaan dua bank besar dalam daftar belanja asing memperkuat tesis bahwa sektor finansial tetap menjadi tulang punggung pergerakan indeks. Di sisi lain, sektor energi yang berbasis komoditas juga terus menunjukkan daya tarik melalui perusahaan-perusahaan kontraktor pertambangan.

"PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) - Rp28,40 miliar," lanjut keterangan data tersebut menurut sumber tersebut yang merangkum hasil perdagangan harian. Sektor infrastruktur penunjang juga mendapatkan porsi yang cukup manis dalam aliran dana masuk pada perdagangan kali ini.

"PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. (BIPI) - Rp24,55 miliar," tutur data Stockbit tersebut sebagaimana dilansir dari sumbernya yang menyoroti sektor infrastruktur energi. Kehadiran perusahaan-perusahaan ini mempertegas bahwa asing sedang melakukan diversifikasi pada aset-aset yang memiliki keterkaitan dengan rantai pasok global.

Saham tambang tembaga dan emas raksasa juga terpantau masih stabil berada dalam daftar incaran meskipun nilainya tidak sebesar perbankan. "PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) - Rp22,75 miliar," jelas rilis tersebut sebagaimana diberitakan oleh sumbernya yang memantau emiten baru di bursa.

Tidak hanya sektor tambang konvensional, perusahaan yang bergerak di bidang investasi energi dan infrastruktur gas juga mulai menunjukkan geliatnya. "PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) - Rp22,64 miliar," tulis keterangan tersebut menurut sumber tersebut mengenai rincian net foreign buy.

Daftar sepuluh besar belanja asing ditutup oleh emiten yang bergerak di bidang distribusi gas alam dan infrastruktur energi terintegrasi. "PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) - Rp18,78 miliar," ungkap laporan transaksi tersebut sebagaimana dilansir dari sumbernya pada akhir sesi perdagangan.

Masuknya modal asing pada deretan saham tersebut memberikan bensin tambahan bagi IHSG untuk tetap bertahan di level psikologis yang cukup tinggi. Meskipun angka penjualan bersih asing secara keseluruhan masih besar, namun pemusatan dana pada 10 saham ini memberikan sentimen positif bagi ritel.

Para analis berpendapat bahwa penguatan indeks yang diiringi dengan volume transaksi besar adalah tanda bahwa pasar memiliki likuiditas yang sangat sehat. Investor tampaknya mulai berani mengambil posisi di tengah kondisi ekonomi yang dinilai stabil namun tetap penuh dengan kehati-hatian.

Secara teknikal, keberhasilan IHSG melewati level 7.000 merupakan capaian krusial yang bisa membuka jalan menuju penguatan lebih lanjut di sisa pekan ini. Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada rilis data ekonomi domestik serta kebijakan moneter yang mungkin diambil oleh otoritas keuangan.

Kenaikan IHSG sebesar 1,22 persen dalam sehari adalah bukti bahwa kepercayaan diri pasar sedang berada pada titik yang cukup tinggi. Ke depannya, konsistensi aliran dana asing pada saham-saham penggerak pasar atau blue chip akan menjadi faktor penentu arah indeks selanjutnya.

Perpaduan antara aksi beli asing yang selektif dan gairah investor lokal yang meningkat menciptakan harmoni yang menjaga stabilitas lantai bursa. Dengan nilai transaksi yang mencapai puluhan triliun, pasar modal Indonesia membuktikan dirinya tetap kompetitif di mata para investor berskala global.

Reporter: Moch Febrianto