JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya angkat bicara mengenai spekulasi liar yang mengaitkan kondisi anggaran negara dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Beliau menepis anggapan banyak pihak yang menyebutkan bahwa kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN sedang dalam keadaan goyah.
Isu ini berkembang pesat seiring dengan tekanan hebat yang membuat kurs mata uang garuda kini bertengger di level atas Rp17.400 per dolar AS. Menurut beliau, posisi fiskal pemerintah saat ini justru menjadi fondasi utama yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional agar tetap tinggi.
"Orang juga banyak bilang Indonesia fiskalnya goyah, makanya rupiah melemah. Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi kita itu amat kuat," kata Purbaya saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (5/5/2026), sebagaimana dilansir dari sumbernya.
Purbaya berpendapat bahwa kehadiran kekuatan fiskal sebenarnya berfungsi sebagai benteng pertahanan ekonomi, bukan pemicu kerentanan nilai tukar. Penjelasan ini sengaja diberikan untuk meredam sentimen negatif yang terus menyudutkan kredibilitas pengelolaan keuangan negara di mata investor.
Hingga saat ini, data menunjukkan bahwa defisit APBN Indonesia masih terjaga dengan sangat baik di bawah batas aman tiga persen PDB. Realitas di lapangan membuktikan bahwa posisi defisit per akhir Maret 2026 hanya menyentuh angka Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen.
Purbaya menegaskan bahwa angka tersebut jauh dari kata mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan kapasitas ekonomi secara keseluruhan. Capaian ini menjadi bukti konkret bahwa manajemen belanja dan pendapatan negara masih berada dalam jalur yang direncanakan sejak awal tahun.
Secara lebih terperinci, pendapatan negara hingga periode tersebut sudah mencapai angka Rp574,9 triliun atau setara 18,2 persen dari target tahunan. Perolehan ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup menggembirakan yakni sebesar 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, realisasi belanja negara juga tercatat sangat ekspansif dengan nilai mencapai Rp815,0 triliun atau 21,2 persen dari pagu anggaran. Pertumbuhan belanja ini melonjak tajam hingga 31,4 persen secara tahunan, yang mana jauh lebih cepat dibandingkan dengan tren tahun lalu.
"Kalau ada krisis global kita nomor 2 paling kuat di banding negara-negara lain. Bahkan di atas Amerika Serikat, di atas China, di atas Australia dll, ini dari JP Morgan datanya," kata Purbaya, sebagaimana diberitakan oleh sumbernya.
Purbaya menekankan bahwa pengakuan dari lembaga internasional seperti JP Morgan seharusnya memberikan kepercayaan diri lebih bagi pasar domestik. Posisi Indonesia yang dinilai sangat tangguh dalam menghadapi guncangan global menunjukkan bahwa fundamental ekonomi kita tidaklah rapuh seperti yang dituduhkan.
Kondisi nilai tukar rupiah memang sempat terpantau terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat pasca rilis data pertumbuhan ekonomi terbaru. Berdasarkan data Refinitiv, pada pukul 11.15 WIB, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.425 per dolar AS atau mengalami depresiasi sebesar 0,35 persen.
Pelemahan ini seolah menjadi kelanjutan dari tekanan yang sudah mulai terlihat sejak pembukaan perdagangan di pagi harinya. Saat pembukaan, mata uang rupiah sebenarnya sudah dibuka melemah sekitar 0,09 persen dan berada di level Rp17.380 per dolar AS.
Munculnya tekanan terhadap nilai tukar ini terjadi hampir bersamaan dengan pengumuman resmi dari pihak Badan Pusat Statistik terkait angka pertumbuhan. Meskipun angka-angka makro menunjukkan arah positif, namun reaksi pasar terhadap dinamika global tetap memberikan dampak yang signifikan terhadap volatilitas kurs.
Pemerintah terus memantau setiap pergerakan pasar untuk memastikan bahwa stabilitas moneter dan fiskal tetap berjalan secara beriringan. Langkah-langkah antisipasi telah disiapkan agar dampak dari pelemahan nilai tukar ini tidak mengganggu daya beli masyarakat secara luas.
Menkeu juga menyoroti bahwa ketahanan energi nasional merupakan salah satu variabel kunci yang menjaga posisi Indonesia tetap diperhitungkan. Kekuatan ini memberikan ruang gerak bagi pemerintah untuk tetap melakukan intervensi kebijakan yang diperlukan di tengah ketidakpastian situasi ekonomi dunia.
Keyakinan pemerintah didasarkan pada fakta bahwa struktur pendapatan negara masih menunjukkan performa yang sangat solid di tengah tantangan. Peningkatan pendapatan sebesar 10,5 persen menjadi sinyal bahwa roda ekonomi di sektor-sektor produktif masih terus berputar dan memberikan kontribusi nyata.
Purbaya juga mengingatkan agar publik tidak terjebak dalam narasi yang menyamakan depresiasi nilai tukar dengan kegagalan pengelolaan anggaran. Baginya, pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal dan sentimen global yang sedang mencari titik keseimbangan baru terhadap dolar.
Fokus kementerian saat ini adalah memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan dapat memberikan multiplier effect bagi kesejahteraan rakyat banyak. Penyerapan belanja yang tumbuh 31,4 persen menjadi bukti bahwa pemerintah sangat serius dalam menggerakkan mesin pertumbuhan melalui instrumen negara.
Dalam penutup penjelasannya, beliau meminta para pelaku usaha untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan spekulasi yang berlebihan. Koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter dipastikan terus terjalin erat guna menjaga integritas sistem keuangan Indonesia dari berbagai ancaman krisis.
Kekuatan cadangan devisa dan disiplin fiskal yang tinggi tetap menjadi modal utama dalam mengarungi sisa tahun anggaran 2026 ini. Indonesia optimis mampu melewati fase tekanan kurs ini tanpa harus mengorbankan target-target pembangunan jangka panjang yang telah ditetapkan dalam APBN.