IHSG Tembus 7.000, Saham Perbankan dan Emiten Konglomerat Melesat

ilustrasi saham indonesia
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 05 Mei 2026 | 15:20:04 WIB

JAKARTA – Kondisi pasar modal tanah air memperlihatkan taji yang cukup signifikan pada perdagangan di paruh pertama hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terpantau sukses merebut kembali posisinya di zona psikologis 7.000-an.

Laju positif ini seakan menjadi jawaban atas kekhawatiran pelaku pasar setelah indeks sempat fluktuatif di awal sesi. Berdasarkan data RTI Business, IHSG ditutup menguat 0,83% ke level 7.029,85 pada sesi I perdagangan hari ini.

Padahal jika menilik ke belakang, pergerakan indeks saham RI ini sempat menyentuh titik yang cukup rendah di pagi hari. Indeks saham sempat bergerak di level terendahnya pada awal pembukaan perdagangan di posisi 6.921,60.

Namun, minat beli yang masif berhasil membalikkan keadaan hingga membawa indeks terbang lebih tinggi. Volume perdagangan pada paruh pertama perdagangan hari ini tercatat sebanyak 25,34 miliar dengan nilai transaksi mencapai Rp 9,21 triliun.

Aktivitas di lantai bursa memang tampak sangat sibuk sejak bel pembukaan berbunyi. Hingga sesi I hari ini, tercatat frekuensi saham yang diperdagangkan sebanyak 1.472.673 kali.

Euforia ini tidak hanya terlihat pada angka indeks, namun juga merata pada sebaran saham yang diperdagangkan. Mayoritas saham hari ini juga tercatat menguat dibandingkan dengan emiten yang terkoreksi.

Jika dibedah lebih dalam, ada sekitar 346 saham yang berhasil menutup sesi pertama dengan warna hijau. Rinciannya sebanyak 346 saham menguat, 297 saham melemah, dan 169 saham bergerak stagnan.

Kekuatan utama yang mendorong lonjakan indeks kali ini berasal dari deretan saham berkapitalisasi besar. Sejalan dengan hal tersebut, tercatat sejumlah saham raksasa RI bergerak di zona hijau.

Sektor perbankan menjadi salah satu tulang punggung utama dalam kenaikan yang terjadi hari ini. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) misalnya, tercatat menguat 3,62% ke level Rp 3.150 per saham.

Emiten pelat merah lainnya juga tidak mau kalah dalam memberikan kontribusi positif bagi pergerakan indeks. Selain BBRI, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menguat 2,86% ke level Rp 3.950 per saham.

Kondisi serupa juga tampak pada saham bank BUMN lainnya yang terus mendapatkan akumulasi beli dari investor. Kemudian PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga menguat 2,49% ke level Rp 4.530 per saham.

Tidak hanya bank milik negara, raksasa perbankan swasta juga menunjukkan performa yang sangat solid. Saham milik Grup Djarum, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga menguat 2,12% ke level Rp 6.025 per saham.

Fenomena menarik lainnya adalah lonjakan tajam pada saham-saham yang terafiliasi dengan taipan besar di Indonesia. Saham milik Prajogo Pangestu seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga tercatat menguat hingga 14,36% ke harga Rp 2.110 per saham.

Kenaikan dua digit tersebut tentu memberikan dampak psikologis yang kuat bagi pergerakan sektor terkait lainnya. Selain itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga menguat hingga 10,34% ke level Rp 5.600 per saham.

Grup konglomerasi besar lainnya juga turut menghijaukan layar bursa pada jeda siang kali ini. Konglomerasi Grup Sinar Mas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga tercatat menguat 3,61% ke harga Rp 1.580 per saham.

Melihat fenomena penguatan serentak ini, nampaknya kepercayaan investor kembali pulih setelah sempat meragukan ketahanan indeks. Para manajer investasi dan retail seolah sepakat untuk memburu kembali saham-saham blue chip yang sempat tertekan.

Pencapaian level 7.000 ini dianggap sebagai momentum krusial untuk menentukan arah tren pasar ke depan. Jika konsistensi penguatan ini terjaga, bukan tidak mungkin rekor-rekor baru akan kembali tercipta di bursa saham kita.

Bagi pengamat pasar, fenomena ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi nasional masih dipandang cukup tangguh. Aliran modal yang masuk ke sektor perbankan dan industri menjadi bukti nyata kepercayaan para pemilik modal.

Meskipun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat masih adanya saham-saham yang berakhir di zona merah. Fluktuasi di pasar global tetap menjadi faktor eksternal yang harus dipantau dengan sangat cermat oleh para trader.

Pada akhirnya, pergerakan IHSG hingga siang ini memberikan angin segar bagi para pelaku pasar modal. Sesi kedua nanti akan menjadi pembuktian apakah indeks mampu bertahan di atas level psikologis 7.000 atau justru kembali terkoreksi.

Reporter: Moch Febrianto