JAKARTA – Rupiah anjlok ke Rp17.341 per dolar AS mendorong pertumbuhan tabungan valas perbankan hingga 8,6% secara tahunan.
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah membawa dampak langsung pada perubahan perilaku nasabah perbankan. Kondisi ini membuat produk tabungan valas semakin diminati sebagai alternatif penyimpanan dana.
Rupiah kembali mencetak rekor terlemahnya sepanjang masa di level Rp 17.341 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (29/4/2026). Pelemahan ini menjadi sinyal kuat bagi pasar untuk mengantisipasi risiko nilai tukar.
Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia mencatat simpanan valas perbankan tumbuh 8,6% secara tahunan menjadi Rp 2.338,6 triliun per Maret 2026. Pertumbuhan paling tinggi terjadi pada tabungan yang melonjak 24,4% secara year on year menjadi Rp 242,9 triliun.
Sejumlah bank besar juga mencatat tren pertumbuhan serupa pada produk tabungan valas. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi nasabah terhadap instrumen berbasis mata uang asing.
Tabungan valas Bank Mandiri tumbuh 24,7% secara yoy menjadi Rp 49,3 triliun. Sementara itu, tabungan valas Bank Negara Indonesia (BNI) meningkat 33,8% yoy menjadi Rp 13,7 triliun.
Di sisi lain, Bank Syariah Indonesia (BSI) menyebut kinerja dana pihak ketiga secara keseluruhan masih solid. Pertumbuhan DPK bank tersebut mencapai 14,8% yoy menjadi Rp 336 triliun.
Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menyampaikan bahwa produk tabungan menjadi salah satu penopang utama. Tabungan di BSI tumbuh 16,1% yoy menjadi Rp 154 triliun.
“Ini mencerminkan makin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan syariah,” ujar Wisnu sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kepercayaan publik tetap terjaga di tengah dinamika pasar.
Meski demikian, komposisi tabungan di BSI masih didominasi oleh rupiah. Sementara tabungan valas memiliki porsi di bawah 5% dari total keseluruhan.
Hal ini menandakan bahwa tabungan valas masih berperan sebagai pelengkap dalam portofolio perbankan. Namun keberadaannya tetap penting dalam memberikan pilihan bagi nasabah.
Dari sisi bank swasta, Bank Central Asia (BCA) mencatat pertumbuhan tabungan valas sebesar 39,8% yoy menjadi Rp 20,4 triliun pada kuartal I-2026. Angka ini memperkuat tren peningkatan minat terhadap simpanan berbasis valuta asing.
Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie menyebut pertumbuhan tabungan valas didorong oleh segmen korporasi dan nasabah Korean Link. Kontribusi terbesar masih berasal dari instrumen deposito yang digunakan oleh perusahaan.
Menurutnya, dominasi korporasi terjadi karena kebutuhan transaksi global dan strategi lindung nilai. Sementara kontribusi nasabah ritel masih relatif terbatas dibandingkan segmen bisnis.
“Kondisi tersebut mendorong korporasi maupun individu untuk meningkatkan simpanan valas sebagai bagian dari mitigasi risiko,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pernyataan ini menegaskan fungsi tabungan valas sebagai instrumen perlindungan nilai.
Kunardy juga menilai tren pertumbuhan tabungan valas akan tetap positif hingga akhir tahun 2026. Kondisi likuiditas valas di pasar perbankan bahkan cenderung mengetat akibat dinamika global.
Ia optimistis pertumbuhan simpanan valas akan berlanjut dengan kontribusi terbesar dari segmen korporasi. Hal ini sejalan dengan kebutuhan bisnis terhadap stabilitas nilai tukar di tengah volatilitas rupiah.