JAKARTA – Badan Pusat Statistik merilis analisis inflasi dan kebijakan fiskal tahun 2026 guna memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi.
Optimalisasi instrumen keuangan negara kini diarahkan untuk menopang sektor-sektor yang paling rentan terhadap guncangan harga global.
"Realisasi analisis inflasi dan kebijakan fiskal tahun 2026 menjadi pijakan penting bagi kami untuk mengukur efektivitas subsidi energi tepat sasaran," ujar Atqo, sebagaimana dilansir dari bps.go.id, Senin (27/4/2026).
Kepala BPS menegaskan bahwa pergerakan indeks harga konsumen masih berada dalam rentang kendali berkat sinergi yang kuat antara otoritas moneter dan fiskal.
"Kami memastikan bahwa analisis inflasi dan kebijakan fiskal tahun 2026 akan terus diperbarui secara berkala guna memberikan gambaran akurat bagi pelaku usaha," tutur Atqo, sebagaimana dilansir dari bps.go.id, Senin (27/4/2026).
Pemantauan harga di 38 provinsi menunjukkan adanya kestabilan pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau.
Efisiensi belanja pemerintah pusat juga ikut andil dalam menekan tekanan harga yang biasanya muncul pada masa transisi musim tanam.
Distribusi logistik yang lebih lancar melalui infrastruktur baru terbukti mampu memangkas biaya angkut barang kebutuhan pokok secara signifikan.
Intervensi pasar tetap dilakukan secara selektif pada daerah yang mencatatkan kenaikan harga di atas rata-rata nasional.
Ketahanan ekonomi domestik di sisa tahun ini sangat bergantung pada konsistensi eksekusi program perlindungan sosial yang telah dianggarkan.