IHSG Sukses Ditutup Naik 1,01 Persen dan Rupiah Mampu Berada Di 17.625

MO
Moch Febrianto

Editor: yoga susila utama

Rabu, 09 September 2026
IHSG Sukses Ditutup Naik 1,01 Persen dan Rupiah Mampu Berada Di 17.625
IHSG Sukses Ditutup Naik 1,01 Persen (FOTO: NET)

MEDAN - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyatakan IHSG terus berada di zona hijau selama masa transaksi, walaupun mayoritas pasar saham di kawasan Asia mengalami kemerosotan.

IHSG ditransaksikan pada rentang 6.636 hingga 6.696 serta ditutup naik 1,01 persen pada posisi 6.686,442 pada Selasa, 8 September 2026.

Sesuai keterangan Gunawan, penguatan IHSG kembali memperlihatkan anomali sebab terjadi di tengah merosotnya performa sebagian besar bursa saham Asia.

Sejumlah emiten yang turut menyumbang terhadap kenaikan IHSG di antaranya BUMI, BBRI, BBCA, TLKM, BMRI serta beberapa saham utama lainnya dari sektor energi.

Pasar saham di Asia terimbas tekanan seiring peningkatan harga minyak mentah dunia yang mencapai angka 98,6 US Dolar per barel.

Harga minyak jenis Brent bahkan hampir menyentuh level 100 US Dolar per barel di tengah memanasnya perselisihan di wilayah Timur Tengah.

“Kondisi seperti ini membuat pasar saham akan sangat kesulitan untuk keluar dari tekanan, karena kenaikan harga minyak mentah akan memicu tekanan pada emiten di bursa,” ujar Gunawan.

Sementara itu, mata uang Rupiah juga teramati menguat sepanjang masa transaksi.

Rupiah ditutup pada level 17.625 per US Dolar di tengah minimnya sentimen, sejalan dengan agenda ekonomi luar negeri yang dinilai tidak begitu mempengaruhi kinerja sektor keuangan.

Gunawan mengungkapkan, publikasi data perdagangan China justru lebih banyak ditanggapi negatif oleh pasar saham di Asia.

Meski demikian, keadaan tersebut menjadikan nilai mata uang Asia secara relatif bergerak menguat atas US Dolar.

“Kinerja USD Index yang melemah di bawah level 99 menjadi pemicu melemahnya US Dolar terhadap sejumlah mata uang di Asia,” kata Gunawan.

Menurutnya, masalah defisit anggaran Amerika Serikat masih menjadi perhatian para pelaku pasar, di tengah rencana pembelian kembali (buyback) US Treasury oleh Departemen Keuangan AS.

Kebijakan tersebut menimbulkan dugaan bahwa Bank Sentral AS atau The Fed berpeluang menerapkan langkah serupa yang biasa dinamai quantitative easing.

Di sisi berbeda, harga emas dunia diperdagangkan melemah ke level 4.400 US Dolar per ons troy atau tetap berada pada kisaran 2,5 juta rupiah per gram.

Gunawan menambahkan, harga emas kembali terpengaruh kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The Fed seiring dengan membaiknya data pasar kerja AS.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua