Dolar AS Melemah di Asia: Rupiah Won dan Ringgit Menguat Pagi Ini

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Jumat, 14 Agustus 2026
Dolar AS Melemah di Asia: Rupiah Won dan Ringgit Menguat Pagi Ini
Rupiah Won dan Ringgit Menguat Pagi Ini (FOTO: NET)

JAKARTA - Dolar Amerika Serikat (AS) yang merosot pada pagi hari ini menjadi kabar menggembirakan untuk mata uang Asia.

Pada transaksi Jumat (14/8/2026), sebagian besar mata uang kawasan melaju menguat menghadapi greenback.

Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.28 WIB, tujuh dari 10 mata uang yang dilacak berhasil naik atas dolar AS, sedangkan tiga sisanya terkoreksi.

Dolar Taiwan menjadi mata uang yang mencatatkan apresiasi paling tinggi di Asia pada pagi hari ini.

Dolar Taiwan melonjak 0,47% menuju level TWD 31,974/US$.

Won Korea Selatan mengekor lewat lonjakan 0,26% menuju level KRW 1.414,24/US$.

Rupiah turut melangkah positif melalui apresiasi 0,08% menuju level Rp 17.845/US$.

Yen Jepang terangkat 0,06% menuju JPY 159,37/US$, sementara dong Vietnam terdorong 0,03% menuju VND 26.062/US$.

Dolar Singapura beserta ringgit Malaysia sama-sama menguat tipis 0,02%.

Dolar Singapura berada pada posisi SGD 1,28/US$, sementara ringgit bertengger pada MYR 4,084/US$.

Sebaliknya, baht Thailand menjadi mata uang dengan depresi terhebat di Asia.

Baht terkikis 0,18% menuju level THB 33,21/US$.

Peso Filipina ikut tergerus 0,04% menuju PHP 61,345/US$, sedangkan yuan China tertekan tipis 0,01% menuju CNY 6,743/US$.

Apresiasi sebagian besar mata uang Asia pagi hari ini berlangsung tatkala dolar AS kembali tertekan.

Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.30 WIB terpantau merosot 0,06% menuju level 99,905.

Hambatan terhadap dolar AS hadir usai data harga produsen AS memperlihatkan inflasi pada tingkat produsen tidak bergerak pada Juli.

Data Producer Price Index (PPI) tersebut menyebabkan para pelaku pasar kembali memotong proyeksi penyesuaian suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) pada September mendatang.

PPI AS yang stagnan pada Juli terjadi setelah pada Juni tercatat turun 0,1% berdasarkan revisi terbaru.

Sebelumnya, ekonom memperkirakan PPI akan naik 0,2%.

Data tersebut melengkapi rilis inflasi konsumen AS yang juga menunjukkan tekanan harga relatif terbatas.

Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa The Fed memiliki ruang untuk menahan suku bunga pada rapat bulan depan.

Noel Dixon, senior macro strategist State Street, menilai data inflasi terbaru mendukung peluang The Fed tetap menahan suku bunga.

"Kesimpulan saya dari angka hari ini dan kemarin adalah data tersebut membantu memperkuat alasan bagi The Fed untuk tetap menahan suku bunga pada September," ujar Dixon, dikutip dari Sumbernya.

Fed funds futures kini menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 35%.

Angka ini turun dari 40% pada Rabu dan 55% pada pekan sebelumnya.

Meski begitu, pasar masih mencermati risiko dari harga minyak dan ketegangan Timur Tengah.

Harga minyak sempat memangkas pelemahan setelah muncul laporan serangan Houthi Yaman terhadap kilang Saudi Aramco dengan drone.

Kondisi ini kembali memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan di pasar energi global.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua