Prospek Pergerakan Nilai Emas Selama Tiga Hingga Enam Bulan Mendatang

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 30 Juli 2026
Prospek Pergerakan Nilai Emas Selama Tiga Hingga Enam Bulan Mendatang
Prospek Pergerakan Nilai Emas (FOTO: NET)

JAKARTA - Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), diperkirakan tak akan membuat keputusan signifikan paling tidak hingga September 2026.

Keadaan ini berpotensi menyebabkan nilai jual emas bergerak stagnan selama tiga sampai enam bulan ke depan, bahkan bisa bertahan sampai awal 2027.

Kepala Strategi Pasar SIA Wealth Management, Colin Cieszynski mengungkapkan, konflik Iran sudah memicu fluktuasi tajam pada pasar energi dan meningkatkan estimasi inflasi.

Dalam keadaan demikian, The Fed diproyeksi berupaya menghindari kebijakan yang dapat memperbesar gejolak pasar.

Dia menegaskan bahwa ketidakpastian mengenai stabilitas harga beserta situasi di wilayah Timur Tengah menghadirkan risiko tinggi untuk investor yang mau mengambil posisi di pasar logam mulia.

“Emas telah mengalami reli yang sangat besar,” kata Cieszynski, seperti dilansir dari Sumbernya, dikutip pada Rabu (29/7/2026).

Menurut dia, mayoritas risiko pertempuran sudah tecermin dalam nilai emas.

Namun demikian, penurunan dari US$ 5.500 ke US$ 4.000 per ons troi belum sepenuhnya melenyapkan premi risiko geopolitik di pasar.

“Penurunan itu memang mengurangi sebagian kekhawatiran terhadap perang, tetapi tidak seluruhnya. Harga emas masih berada di level tinggi dan muncul kekhawatiran kondisi ini akan memaksa bank sentral menaikkan suku bunga,” jelasnya.

Cieszynski menilai angka inflasi yang tersedia saat ini cenderung mencerminkan kondisi pada kurun waktu sebelumnya atau bersifat tertinggal.

Dirinya memproyeksikan inflasi bisa kembali terangkat dalam kurun satu atau dua bulan ke depan, bilamana harga minyak terus menanjak.

“Berdasarkan kondisi tersebut, terdapat kemungkinan dolar AS mulai menguat. Penguatan dolar akan menjadi tekanan bagi harga emas,” ucapnya.

Harga logam mulia pada umumnya mengalami tekanan sewaktu mata uang dolar AS menguat, lantaran emas ditransaksikan dalam mata uang AS tersebut.

Penguatan mata uang dolar menyebabkan emas menjadi lebih mahal bagi para pemilik mata uang lain.

Lebih jauh, Cieszynski menilai bahwa nilai emas saat ini sedang berupaya mencari titik keseimbangan baru, setelah melewati lonjakan besar dan penyesuaian tajam.

“Kami sudah tidak lagi berada di US$ 3.000, tetapi juga tidak lagi berada di US$ 5.500. Harga sedang mencari keseimbangan di antara kedua level tersebut,” tutur dia.

Atas pertimbangan itu, Cieszynski memutuskan untuk bersikap netral atas prospek logam mulia untuk sementara waktu.

“Saya belum mengetahui faktor apa yang dibutuhkan agar harga emas kembali bergerak kuat. Emas telah mengalami reli yang sangat besar, kemudian terkoreksi tajam, dan sekarang pasar perlu menemukan keseimbangan baru. Proses ini bisa membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan,” pungkasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua