Rupiah Masih Lemah Kenaikan Risiko Domestik Jadi Penyebab Utama Pasar

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 30 Juli 2026
Rupiah Masih Lemah Kenaikan Risiko Domestik Jadi Penyebab Utama Pasar
Rupiah Masih Lemah Kenaikan Risiko Domestik (FOTO: NET)

JAKARTA - Kurs nilai tukar rupiah terus membentang dalam tren penurunan di tengah membubungnya ketidakpastian pada pasar keuangan.

Di samping terimbas sentimen global, depresiasi rupiah dianggap lebih mendominasi dipicu oleh unsur internal yang memengaruhi persepsi para penanam modal terhadap Indonesia.

Mengacu pada data Bloomberg pada Rabu (29/7), rupiah pada pasar spot diakhiri pada level Rp 18.073 per dolar Amerika Serikat (AS) atau mengangkut kenaikan 0,06% secara harian.

Kendati sedikit terapresiasi, rupiah tetap bertengger dekat posisi terendah sepanjang sejarah pada level Rp 18.190 per dolar AS yang terdata pada 8 Juni 2026.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dipo Satria Ramli, menyatakan unsur dalam negeri saat ini menjadi pendorong mendasar pelemahan rupiah, walau tekanan luar negeri seperti perselisihan Iran-Amerika Serikat dan melonjaknya harga minyak turut pula membayangi.

Diketahui Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengundurkan diri atas alasan pribadi.

Pelepasan jabatan Perry ini diutarakan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada konferensi pers di Gedung BI, Senin (27/7).

Berdasarkan penuturan Dipo, kecemasan pasar saat ini bukan semata-mata cuma terpicu oleh sentimen itu, melainkan para penanam modal justru mengamati pergeseran tata kelola serta mekanisme penetapan kebijakan.

“Saat ini menjadi concern utama bukan hanya Perry yang mundur, tetapi kekhawatiran bahwa rule of game-nya berubah, seperti pengumuman pengunduran BI oleh Mensesneg, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dipimpin presiden, dihadari Danantara dan wakil ketua DPR,” ungkap Dipo saat dihubungi dari Sumbernya, Rabu (29/7/2026).

Di sisi berbeda, Dipo memaparkan lonjakan premi risiko Indonesia yang tergambar dari meningkatnya Credit Default Swap (CDS) memang memperlihatkan persepsi risiko para penanam modal yang memburuk.

Saat ini CDS Indonesia 10 tahun merangkak ke 148,89.

Akan tetapi, Dipo berpandangan lonjakan CDS tak serta-merta memicu keluarnya modal asing dari pasar keuangan dalam negeri.

CDS merupakan petunjuk atau proksi risiko gagal bayar surat utang pemerintah.

Selama tingkatan CDS tetap berada di kisaran yang tergolong aman, kenaikannya lebih memproyeksikan meningkatnya persepsi risiko ketimbang sinyal bahwa para penanam modal bakal langsung menarik dananya.

Mengenai arus modal asing, Dipo mengutarakan secara umum pasar keuangan Indonesia tetap mendokumentasikan aksi jual bersih (net sell) oleh penanam modal asing.

Kondisi demikian ikut memberikan tekanan bagi aset-aset berdenominasi rupiah.

Hingga 22 Juli 2026, pada pasar keuangan dalam negeri, pasar saham, dan SRBI masing-masing mendokumentasikan outflow sebesar Rp 2,0 triliun dan Rp 0,4 triliun (month-to-date/MtD), sedangkan pasar SBN mendokumentasikan inflow sebesar Rp 1,9 triliun.

Sementara itu untuk proyeksi rupiah sampai akhir 2026, Dipo memprediksikan mata uang Garuda bakal sukar kembali menguat menuju kisaran Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan pandangannya, intervensi BI pada pasar keuangan sejauh ini memang membantu membendung pelemahan rupiah supaya tidak kian dalam.

Meskipun demikian, tindakan tersebut dinilai belum memadai kuat untuk memicu rupiah kembali menguat secara signifikan.

"Betul, sulit untuk kembali. Trennya melemah. Intervensi BI pada pasar membantu menahan pelemahan lebih lanjut, namun belum cukup untuk menguatkan rupiah," pungkasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua