Nilai Tukar Rupiah Diperkirakan Merosot Lagi pada Transaksi Mendatang

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 30 Juli 2026
Nilai Tukar Rupiah Diperkirakan Merosot Lagi pada Transaksi Mendatang
Nilai Tukar Rupiah Diperkirakan Merosot (FOTO: NET)

JAKARTA - Pengamat meramalkan nilai tukar rupiah (IDR) kembali melemah saat perdagangan melawan dolar Amerika Serikat (USD) pada Kamis, 30 Juli 2026.

Saat perdagangan Rabu sore (29/7/2026), kurs rupiah ditutup naik tipis 10 poin (0,06%) menuju posisi Rp 17.073 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di level Rp 18.083 per dolar AS.

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp 18.070 - Rp 18.130 per dolar AS," tutur Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi dari Sumbernya, Rabu (29/7/2026).

Ibrahim membeberkan, rupiah diramal kembali terkoreksi akibat sentimen pertikaian di Timur Tengah yang tetap dilanda ketidakpastian, usai Iran menembakkan deretan rudal balistik yang mengarah ke markas AS di wilayah tersebut.

"Disisi lain, upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz juga mengalami kebuntuan setelah Iran menolak usulan Oman mengenai pembentukan kerangka kerja bersama untuk pengaturan lalu lintas pelayaran di jalur perairan strategis tersebut," jelasnya.

Mata uang rupiah juga diproyeksi terus tertekan seiring sikap antisipasi pasar mengenai vonis suku bunga Federal Reserve.

"Menjelang peristiwa penting terkait kebijakan bank sentral, para pedagang mengurangi taruhan kenaikan suku bunga Fed di tengah harapan baru akan diplomasi AS-Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima bulan, yang menyebabkan penurunan harga minyak dan meredakan kekhawatiran inflasi," ungkap Ibrahim.

Dari sisi domestik, kurs rupiah dinilai rentan kembali merosot setelah pengunduran diri Perry Warjiyo selaku Gubernur Bank Indonesia (BI).

BI sendiri telah mengutarakan komitmen menjaga keseimbangan yang menjadi syarat utama guna menyokong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

“Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar Rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi,” ucap Erwin dari Sumbernya pada Rabu (29/7/2026).

Dirinya menyampaikan, BI tidak hanya mengandalkan instrumen suku bunga acuan (BI-Rate), mekanisme moneter lain turut diperkuat.

Yaitu, dengan menerapkan triple intervention melalui Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga aksi beli surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua