Aksi Melepas Dolar Amerika Serikat Demi Menguatkan Rupiah Tahun 1998!

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Senin, 27 Juli 2026
Aksi Melepas Dolar Amerika Serikat Demi Menguatkan Rupiah Tahun 1998!
Aksi Melepas Dolar Amerika Serikat (FOTO: NET)

JAKARTA - Nilai tukar uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bahkan pernah menyentuh level Rp 18.000.

Terdapat kilas sejarah menarik sewaktu kemerosotan rupiah pada tahun 1998 silam.

Kala itu, anak tertua Presiden ke-2 RI Soeharto Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut Soeharto mencoba menggerakkan aksi khusus guna menguatkan rupiah di tengah terpaan krisis moneter.

Wanita yang akrab dipanggil Tutut ini menginisiasi aksi untuk mendongkrak rupiah.

Pada saat itu, kondisi perekonomian memang sedang berada pada situasi yang berat.

Merujuk pada catatan Jan Luiten van Zanden dalam Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012), nilai tukar rupiah anjlok sangat dalam dari yang semula stabil pada posisi Rp2.000 per dolar AS merosot hingga ke kisaran Rp10.000-12.000 per dolar AS.

Situasi ini terpicu oleh gejolak mata uang baht Thailand pada pertengahan 1997 yang lantas meluas ke pelbagai negara kawasan Asia, termasuk wilayah ini.

Di tengah situasi tersebut, Tutut Soeharto pada Januari 1998 mengawali Gerakan Cinta Rupiah (Getar).

Tujuannya amat sederhana, yaitu mengajak warga melepas kepemilikan dolar AS guna membantu penguatan rupiah sekaligus mengembalikan kepercayaan pada ekonomi nasional.

"Gerakan Cinta Rupiah (Getar) yang dipelopori Ny. Siti Hardianti Rukmana atau Mbak Tutut benar-benar menggetarkan," tulis dari Sumbernya.

Tutut sendiri langsung memberikan contoh nyata.

Ia tercatat membelanjakan US$50 ribu milik pribadinya untuk ditukarkan ke mata uang rupiah.

Menurut analisisnya, aksi tersebut dilakukan bukan cuma demi membantu memperkokoh rupiah, melainkan juga menumbuhkan semangat cinta tanah air.

Tak lama usai diinisiasi oleh Tutut, sejumlah pejabat negara turut menjalankan langkah serupa.

Menurut pemberitaan dari Sumbernya, beberapa anggota MPR terdata mendatangi bank demi menukarkan simpanan dolar AS mereka ke rupiah.

Salah satu figur yang ikut meramaikan aksi tersebut ialah sosok Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono yang saat itu masih menjabat anggota MPR Fraksi ABRI.

"Di antara rombongan itu (red, yang menukar dolar AS) tampak ketua Panitia Ad Hoc MPR, Hartono, Wakil Ketua Susilo Bambang Yudhoyono. [...] Susilo Bambang Yudhoyono menukar US$1.300," ungkap dari Sumbernya.

Selain para legislator, beberapa pejabat bidang ekonomi juga ikut menyerahkan kepemilikan dolar AS mereka.

Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad, Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono, hingga tokoh-tokoh lainnya disebut ikut mengambil peran.

Dari aksi itu, dana yang terkumpul di Gedung Bank Indonesia menembus sekitar US$650 ribu.

Kelompok pengusaha pun tidak mau ketinggalan.

Menurut dari Sumbernya, pebisnis Aburizal Bakrie, The Ning King, serta Imam Taufik masing-masing tercatat menyerahkan US$100 ribu.

Hal tersebut menjadikannya sebagai perorangan paling besar yang melepas aset dolar di wilayah ini.

Sementara pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono menyusul di urutan selanjutnya.

"Rangking kedua diduduki pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono yang melepas US$ 50.100 dan merelakan 1 Kg emas miliknya kepada pemerintah," ungkap dari Sumbernya.

Seiring berjalannya masa, Gerakan Cinta Rupiah kian meluas dan diikuti warga dari bermacam latar bidang pekerjaan.

Di tengah pergerakan itu, Tutut juga diketahui kembali menambah partisipasinya dengan melepaskan 2 kilogram emas miliknya untuk pemerintah.

Walau demikian, gerakan tersebut mulai mendapat nada kritik beberapa minggu setelahnya.

Sejumlah pengamat menilai Gerakan Cinta Rupiah tidak akan mampu membendung tekanan arus pasar.

Sebab, dana yang terhimpun dinilai tidak lebih dari US$5 juta alias sangat jauh dibanding kebutuhan mengatasi krisis yang mencapai miliaran dolar AS.

"Ini tak akan menyelesaikan masalah," ungkap pengusaha Fahmi Idris, dikutip dari Sumbernya.

Teguran kritik itu lantas terbukti.

Nilai kurs rupiah terus merosot pada bulan-bulan berikutnya dan mengakibatkan harga bahan pokok melonjak sangat tinggi.

Pada Mei 1998, krisis ekonomi bergulir menjadi krisis sosial serta politik yang memantik gejolak besar di pelbagai daerah.

Tidak lama setelah peristiwa itu, tepatnya pada 21 Mei 1998, Soeharto resmi mengundurkan diri setelah lebih dari 32 tahun memimpin kekuasaan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua