Modal Asing Sebesar Rp 1,3 Triliun Pergi Keluar dari Pasar Saham RI

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Senin, 27 Juli 2026
Modal Asing Sebesar Rp 1,3 Triliun Pergi Keluar dari Pasar Saham RI
Modal Asing Sebesar Rp 1,3 Triliun (FOTO: NET)

JAKARTA - Penanam modal luar negeri kembali melakukan tindakan penjualan bersih saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada transaksi perdagangan Jumat (24/7) lalu.

Ukuran pasar saham tercatat tertekan akibat ketidakjelasan kondisi global pasca pengenaan tarif baru Amerika Serikat (AS) serta pergolakan di Wilayah Timur Tengah.

Merujuk data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), pelepasan aset oleh pemodal asing pada hari Jumat berbanding Rp 1,36 triliun.

Apabila dikalkulasikan sepanjang kurun waktu perdagangan tahun 2026, arah pelepasan bersih pemodal luar negeri hampir menembus angka Rp 80 triliun.

"Investor asing hari ini (Jumat) mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp 1,36 triliun dan sepanjang tahun 2026 investor asing membukukan nilai jual bersih sebesar Rp 79,09 triliun," tulis Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, dalam keterangannya, dikutip Minggu (26/7/2026).

Walau begitu, IHSG masih memperlihatkan arah positif selama kurun waktu transaksi 20-24 Juli 2026.

Indeks mencatatkan lonjakan volume transaksi harian sebesar 66,88% menjadi 43,68 miliar lembar saham dibanding 26,17 miliar lembar saham pada pekan lalu.

Selanjutnya rerata nilai transaksi harian di pasar modal melambung 41,21% mencapai Rp 19,76 triliun dibanding Rp 13,99 triliun pada pekan lalu.

Rerata frekuensi perdagangan harian turut teramati terangkat 14,4% mencapai 2,67 juta kali transaksi dari sebelumnya 2,33 juta kali transaksi.

Berikutnya total nilai kapitalisasi pasar BEI juga bertambah 1,13% mencapai Rp 10.870 triliun dibanding Rp 10.749 triliun di pekan sebelumnya.

Adapun pergerakan IHSG secara mandiri, terdata merangkak naik 0,34% serta ditutup di posisi 6.196,430 dibanding 6.175,535 pada pekan sebelumnya.

Menilik data transaksi RTI Business, IHSG terpantau meluncur hingga 1,88% pada posisi 6.196,43 dengan jajaran saham unggulan LQ45 yang merosot 1,97% sampai penutupan bursa Jumat lalu.

Situasi ini dilaporkan terjadi akibat penerapan kebijakan bea masuk anyar AS berkisar 10% hingga 12,5% kepada 60 negara rekan bisnis, termasuk Indonesia.

"Investor mencermati akan pemberlakuan tarif impor baru dari AS sebesar 10-12,5% terhadap 60 mitra dagang termasuk Indonesia," kata Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, dari Sumbernya, Jumat (24/7/2026).

Bukan cuma itu, para pelaku pasar juga sedang mengawasi bentrokan di Kawasan Timur Tengah yang kembali meletupkan harga minyak mentah dunia melampaui level US$ 100 per barel.

Di tengah pergerakan tersebut, kecemasan atas kebijakan tingkat suku bunga tinggi turut memuncak seiring terbukanya celah kenaikan inflasi dunia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua