Bursa Efek Indonesia Rilis 14 Saham Kepemilikan Konsentrasi Tinggi

AA
Aaina Salsa Bila

Editor: Nathasya Zallianty

Jumat, 10 Juli 2026
Bursa Efek Indonesia Rilis 14 Saham Kepemilikan Konsentrasi Tinggi
Ilustrasi BEI, SUmber: m.rctiplus.

JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memperbarui daftar emiten yang masuk kategori high shareholding concentration (HSC) atau saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Kini tinggal 14 perusahaan di daftar HSC setelah berkurang satu perusahaan.

Hingga 2 Juli 2026, jumlah emiten yang masuk dalam daftar HSC berkurang menjadi 14 perusahaan setelah PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) dinyatakan keluar dari daftar tersebut. Sebelumnya, per 1 Juli 2026, terdapat 15 emiten yang berstatus HSC.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, Saidu Solihin, mengatakan perubahan tersebut merupakan hasil evaluasi berkala yang dilakukan Komite High Shareholding Concentration terhadap struktur kepemilikan saham perusahaan tercatat.

"Per 1 Juli 2026 ada 15 emiten dalam daftar HSC dan pada 2 Juli terdapat satu emiten yang keluar dari daftar. Sampai hari ini masih terdapat 14 perusahaan tercatat dalam daftar," ujar Saidu.

Menurut Saidu, BEI secara rutin berdiskusi dengan perusahaan yang masuk daftar HSC untuk memantau perkembangan struktur kepemilikan saham maupun langkah-langkah yang ditempuh emiten dalam meningkatkan porsi saham publik. Apabila hasil evaluasi menunjukkan perusahaan telah memenuhi kriteria yang ditetapkan, status HSC dapat dicabut sehingga emiten keluar dari daftar pemantauan.

BEI menegaskan bahwa pencantuman suatu emiten dalam daftar HSC bukan merupakan bentuk sanksi ataupun penghentian perdagangan saham. Sebaliknya, status tersebut menjadi bagian dari upaya pembinaan dan peningkatan transparansi pasar modal agar investor memperoleh informasi mengenai tingkat konsentrasi kepemilikan saham suatu perusahaan.

Selain mempublikasikan daftar HSC secara berkala, BEI juga melakukan evaluasi bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menggunakan data kepemilikan saham terbaru.

"BEI juga mendorong perusahaan tercatat meningkatkan porsi free float dan likuiditas saham. Ini diharapkan memperluas distribusi kepemilikan sekaligus memperkuat transparansi pasar modal Indonesia," kata Saidu.

Kebijakan tersebut juga sejalan dengan upaya BEI meningkatkan kualitas pasar modal melalui kepemilikan saham yang lebih tersebar sehingga likuiditas perdagangan dapat semakin baik.

Meski LUCY telah keluar dari daftar, berikut merupakan komposisi emiten yang sempat tercatat dalam evaluasi HSC pada awal Juli 2026 beserta tingkat konsentrasi kepemilikannya:

AGII PT Samator Indo Gas Tbk 97,75%

SOTS PT Satria Mega Kencana Tbk 98,35%

IFSH PT Ifishdeco Tbk 99,77%

MGLV PT Panca Anugrah Wisesa Tbk 95,94%

ROCK PT Rockfields Properti Indonesia Tbk 99,85%

RLCO PT Abadi Lestari Indonesia Tbk 95,35%

DSSA PT Dian Swastatika Sentosa Tbk 95,76%

BREN PT Barito Renewables Energy Tbk 97,31%

WBSA PT BSA Logistics Indonesia Tbk 95,82%

TCPI PT Transcoal Pacific Tbk 94,10%

MGRO PT Mahkota Group Tbk 93,76%

SATU PT Kota Satu Properti Tbk 94,27%

HATM PT Habco Trans Maritima Tbk 96,09%

DGWG PT Delta Giri Wacana Tbk 97,35%

Sementara itu, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) yang sebelumnya memiliki konsentrasi kepemilikan sebesar 95,47% telah resmi keluar dari daftar HSC berdasarkan hasil evaluasi Komite High Shareholding Concentration pada 2 Juli 2026.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua