IHSG Terancam Koreksi Meski Menguat, Simak Analisis dan Saham Pilihannya

AA
Aaina Salsa Bila

Editor: Nathasya Zallianty

Jumat, 03 Juli 2026
IHSG Terancam Koreksi Meski Menguat, Simak Analisis dan Saham Pilihannya
Ilustrasi IHSG, Sumber: mandirisekuritas.

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (3/7/2026), meskipun dalam dua hari terakhir berhasil mencatat penguatan. Pada perdagangan Kamis (2/7/2026), IHSG ditutup menguat 49,44 poin atau 0,87 persen ke posisi 5.744,56.

Secara teknikal, IHSG dinilai masih berada dalam fase yang rawan mengalami koreksi. Setelah menguat 0,87 persen ke level 5.744 dengan dominasi volume pembelian, indeks diperkirakan masih berpotensi menguji area support di kisaran 5.472-5.540.

Terdapat peluang skenario yang lebih positif apabila IHSG mulai membentuk awal gelombang penguatan berikutnya. “Best case, posisi IHSG saat ini masih berada pada bagian dari wave (b) dari wave [iv] pada skenario hitam, sehingga diperkirakan IHSG masih rawan koreksi menguji 5.472-5.540. Namun, cermati skenario merah di mana IHSG saat ini sedang membentuk bagian awal dari wave [v] dari wave 3,” katanya.

Level support IHSG diproyeksikan berada di 5.486 dan 5.317, sedangkan resistance berada di 6.007 dan 6.286. Strategi perdagangan yang direkomendasikan adalah sebagai berikut:

- Buy on weakness pada saham ADMR dan BRMS

Trading buy pada RATU

Sell on strength untuk INDF

Pergerakan IHSG dinilai masih dibayangi sejumlah sentimen negatif, terutama belum pulihnya aliran dana asing ke pasar domestik. Secara teknikal, IHSG memang berhasil menunjukkan daya tahan sejak terbentuknya wave (b), namun indikator teknikal masih memberikan sinyal yang kurang positif.

“Meskipun IHSG berhasil menguat selama dua hari terakhir, arus dana asing belum menunjukkan pembalikan yang konsisten sehingga berpotensi membatasi kenaikan indeks,” ungkapnya.

Pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi salah satu faktor yang membebani pasar. Rupiah tercatat terdepresiasi 0,24 persen ke Rp 17.995 per dolar AS seiring berlanjutnya aksi jual investor asing. Sepanjang semester I 2026, dana asing juga telah mencatatkan arus keluar sebesar Rp 86,81 triliun secara year to date.

Di sisi lain, inflasi tahunan yang meningkat menjadi 3,34 persen dinilai membuka peluang Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi. Pasar juga mencermati defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar USD 1,61 miliar pada Mei 2026.

Selain itu, pasar menunggu pengumuman kupon Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030 yang dijadwalkan pada Jumat (3/7/2026). Masa penawaran ORI030 berlangsung mulai 6 Juli hingga 30 Juli 2026. Dari sentimen global, pasar mencermati data nonfarm payroll Juni 2026 yang hanya bertambah 57.000, di bawah ekspektasi pasar sebesar 110.000.

Investor disarankan tetap fokus pada saham berfundamental kuat, memiliki valuasi murah, serta menunjukkan sinyal pembalikan tren. Saham yang direkomendasikan untuk strategi accumulative buy yakni:

BMRI

BBNI

TPIA

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua