Emas Dunia Anjlok di Kuartal II 2026, Ekspektasi Suku Bunga AS Jadi Faktor Penekan

DI
Diaz Muhammad Hanif

Editor: Nathasya Zallianty

Rabu, 01 Juli 2026
Emas Dunia Anjlok di Kuartal II 2026, Ekspektasi Suku Bunga AS Jadi Faktor Penekan
Ilustrasi Emas (sumber foto: NET)

JAKARTA– Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa (30/6/2026) dan berada di jalur mencatat kinerja kuartalan terburuk sejak 2013. Logam mulia tertekan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS), penguatan dolar AS, serta kekhawatiran terhadap inflasi.

Mengutip Investing.com, Rabu (1/7/2026), harga emas spot turun 0,1% menjadi USD4.011,82 per ons, sementara emas berjangka melemah 0,3% ke USD4.026,30 per ons. Sepanjang kuartal II, harga emas spot telah turun sekitar 14,1% dan sempat menembus di bawah level psikologis USD4.000 per ons pada 24 Juni, untuk pertama kalinya sejak November 2025.

Penurunan ini memperpanjang tren negatif emas yang sudah berlangsung empat bulan berturut-turut. Sejak awal tahun, emas sempat menyentuh level USD5.400 per ons pada Januari, namun kehilangan daya tariknya setelah konflik Iran memicu gejolak energi dan inflasi.

Pelaku pasar pekan ini mencermati indikator tenaga kerja AS sebagai petunjuk arah kebijakan moneter The Fed. Data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan kerja Mei mencapai 7,594 juta, lebih tinggi dari ekspektasi 7,296 juta. Sementara itu, indeks kepercayaan konsumen AS versi Conference Board naik menjadi 91,2 pada Juni dari 90,6 pada Mei.

Sebelumnya, indikator inflasi pilihan The Fed pada Mei mencatat kenaikan tahunan tertinggi sejak Oktober 2023. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Jika data tenaga kerja menunjukkan kondisi tetap kuat, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter diperkirakan semakin terbatas.

Meski harga minyak sempat turun setelah lonjakan akibat konflik Iran, analis menilai tekanan inflasi dari sektor energi masih berpotensi memengaruhi perekonomian global. Hal ini menambah beban bagi emas yang biasanya menjadi aset lindung nilai saat inflasi meningkat.

Kepala Pasar AJ Bell, Dan Coatsworth, mengatakan, “Emas jatuh di bawah USD4.000 per ons, mengakhiri paruh pertama yang mengecewakan bagi logam mulia ini. Emas sempat mendekati USD5.400 pada Januari tetapi telah kehilangan daya tariknya sejak dimulainya perang Iran.”

Dengan kondisi tersebut, emas diperkirakan mencatat kuartalan terburuk sejak kuartal II 2013, menandai fase koreksi tajam di tengah kombinasi tekanan suku bunga, dolar AS yang menguat, dan ketidakpastian geopolitik.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua