Rekomendasi Saham Kompas 100 di Semester II 2026, Analis Soroti Perbankan hingga Konsumer

DI
Diaz Muhammad Hanif

Editor: Nathasya Zallianty

Rabu, 01 Juli 2026
Rekomendasi Saham Kompas 100 di Semester II 2026, Analis Soroti Perbankan hingga Konsumer
Ilustrasi IHSG (sumber foto: NET)

JAKARTA – Indeks Kompas 100 mencatat penurunan 39,01% year to date (ytd) hingga akhir perdagangan Selasa (30/6/2026), lebih dalam dibanding koreksi IHSG sebesar 34,74%. Meski tertekan, analis menilai semester II-2026 berpotensi menjadi fase bottoming dan akumulasi, dengan peluang pemulihan secara bertahap.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari menyebut valuasi saham blue chip kini berada di level atraktif secara historis, sehingga ruang penurunan lebih terbatas. Namun, investor asing masih konsisten mencatatkan net sell hingga akhir Juni, meski Indonesia tetap berstatus emerging market di MSCI. Menurutnya, katalis positif semester II bisa datang dari penurunan harga energi, disiplin harga sektor telekomunikasi, serta pertumbuhan laba perbankan yang solid.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menambahkan, valuasi yang lebih menarik membuka peluang re-rating jika didukung perbaikan sentimen global maupun domestik. Faktor domestik seperti percepatan belanja pemerintah, proyek strategis nasional, stabilitas inflasi, dan konsumsi masyarakat dinilai dapat menjadi katalis. Sementara faktor global seperti arah kebijakan suku bunga, tensi geopolitik, dan arus dana asing tetap menjadi penentu utama.

Brigita menilai emiten berfundamental kuat dengan valuasi menarik layak dikoleksi. Pada sektor perbankan, BBCA dan BBNI menjadi pilihan utama. Di sektor telekomunikasi, TLKM dinilai atraktif berkat disiplin harga industri. Sektor konsumer seperti KLBF, MYOR, dan AMRT menarik karena potensi perbaikan margin dari penurunan harga energi dan BBM nonsubsidi.

Untuk sektor komoditas, ANTM tetap menjadi pilihan dengan eksposur emas dan hilirisasi mineral. Sementara ASII dinilai atraktif berkat diversifikasi bisnis, potensi kinerja UNTR, serta rencana buyback saham.

Alrich juga menyoroti BMRI dengan dukungan transformasi digital dan pertumbuhan kredit korporasi serta ritel. Untuk sektor kesehatan, KLBF tetap defensif dengan diversifikasi bisnis farmasi, nutrisi, dan distribusi. Di sektor konsumer, ICBP dan MYOR layak diperhatikan berkat permintaan domestik yang stabil.

Namun, Alrich menyarankan strategi wait and see untuk BMRI, BBCA, dan TLKM, serta sell on strength untuk KLBF dan MYOR yang sudah mencatat kenaikan signifikan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua