IHSG Anjlok 34,74 Persen Sepanjang Semester I 2026 dan Ini Pemicunya
JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan mengalami tekanan besar sepanjang semester pertama 2026. Analis melihat bahwa perpaduan antara sentimen global dan domestik sangat memengaruhi pergerakan indeks pada periode perdagangan Januari sampai Juni 2026.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, pasar saham lokal merosot 34,74 persen ke level 5.643,19 pada penutupan Juni 2026. Kondisi ini menempatkan performa bursa domestik di peringkat ke-6 kawasan ASEAN, berada di bawah Malaysia dan Filipina. Sementara di tingkat Asia Pasifik berada di urutan ke-13, dan posisi ke-35 di dunia.
Kemerosotan ini turut memangkas kapitalisasi pasar BEI menjadi Rp9.897 triliun dari posisi awal tahun yang mencapai Rp16.014 triliun. Bersamaan dengan itu, penanam modal asing mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp73,60 triliun selama paruh pertama tahun ini.
Faktor penekan pasar saham ini berasal dari interaksi berbagai persoalan dalam negeri dan luar negeri. Dari sisi eksternal, penguatan mata uang dolar Amerika Serikat yang terus terjadi dan tingginya harga minyak dunia memicu hengkangnya modal asing serta menaikkan beban impor.
Sedangkan dari dalam negeri, pelaku pasar sedang mencermati sejumlah regulasi baru di sektor komoditas yang dinilai menghadirkan ketidakpastian. Kebijakan tersebut mencakup pembatasan ekspor, perubahan skema royalti, hingga penyesuaian bagi hasil hulu migas.
“Beberapa di antaranya adalah pembatasan ekspor komoditas, penyesuaian skema royalti, serta perubahan pada mekanisme bagi hasil di sektor hulu migas. Kebijakan-kebijakan ini, terlepas dari niat baiknya, memunculkan pertanyaan di kalangan investor terkait kepastian berusaha dan arah kebijakan jangka panjang,” ujar analis.
Kekhawatiran mengenai defisit anggaran fiskal juga melemahkan kepercayaan investor asing karena dampaknya terhadap penilaian peringkat kredit negara. Ditambah lagi, ada potensi perubahan bobot kepemilikan saham dalam indeks global seperti MSCI dan FTSE yang mendorong penyesuaian portofolio institusi internasional.
Namun, langkah cepat pemerintah dalam mengelola defisit fiskal mulai diapresiasi positif oleh pasar sebagai bentuk kepekaan terhadap dinamika yang sedang berkembang.
“Yang menggembirakan, pemerintah kini menunjukkan kepekaan terhadap dinamika pasar dan mulai melakukan rasionalisasi atas beberapa kebijakan yang dinilai memberatkan, khususnya terkait pengelolaan defisit fiskal. Ini merupakan sinyal positif yang patut diapresiasi pasar,” kata analis.
Jika membandingkan kedua sentimen, kondisi internal dinilai lebih dominan mengendalikan arah pasar saham domestik di paruh pertama tahun ini daripada gejolak eksternal. Faktor global hanya menjadi pemicu yang memperparah keadaan yang sudah tertekan dari dalam negeri.
“Ketidakpastian yang ditimbulkan oleh sejumlah kebijakan di sektor komoditas, yang merupakan tulang punggung ekspor dan pendapatan emiten besar di bursa kami, berdampak langsung pada revisi proyeksi laba korporasi. Ditambah kekhawatiran terhadap profil kredit negara, investor cenderung mengambil posisi defensif terlebih dahulu sambil menunggu kejelasan arah kebijakan,” tutur analis.
Dalam situasi saat ini, dinamika domestik memegang peran yang jauh lebih krusial dalam memengaruhi cara pandang risiko bagi penanam modal lokal maupun luar negeri.
Kejatuhan pasar saham ini juga dipicu oleh kemunduran performa seluruh sektor. Sektor energi merosot paling tajam hingga 42,17 persen, diikuti sektor properti sebesar 40,15 persen, dan sektor infrastruktur yang jatuh 37 persen secara tahun berjalan.
Penurunan tajam sektor energi ini merefleksikan tumpukan tekanan berat pada sisi fundamental utama, terutama pada industri batu bara yang memegang bobot kapitalisasi sangat besar.
“Sektor batu bara, yang bobot kapitalisasinya cukup dominan dalam indeks energi, menjadi yang paling terdampak. Wacana pembatasan ekspor batu bara menciptakan ketidakpastian besar terhadap volume penjualan dan pendapatan emiten batu bara,” ucap analis.
Sejumlah saham penopang utama sektor ini pun ikut mengalami koreksi harga yang cukup dalam mengikuti perubahan ekspektasi nilai pendapatan ekspor mereka ke depan.
“Secara keseluruhan, kombinasi antara risiko regulasi yang belum tuntas, tekanan harga komoditas global, dan arus keluar investor asing menjadikan sektor energi sebagai sektor yang paling terdampak di semester pertama ini,” pungkas analis.