Harga Emas Global Jatuh ke Angka 3.981 Dolar AS per Ons pada 1 Juli 2026
SAIGON - Tren penurunan harga emas belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti setelah sempat mengalami lonjakan. Dalam kurun waktu 50 hari terakhir, nilai komoditas ini telah menyusut sebesar 15,5 persen. Di Saigon Jewelry Company, nilai emas batangan merosot sebesar 600.000 VND per tael, sehingga menyentuh angka 143,4 juta VND untuk transaksi pembelian dan 146,4 juta VND untuk penjualan.
Penurunan juga terjadi di ACB yang memotong nilai emas batangan sebesar 500.000 VND per tael menjadi 144 juta VND untuk pembelian dan 146,5 juta VND untuk penjualan. Sementara itu, Mi Hong Company mengoreksi harga beli menjadi 144 juta VND dan harga jual menjadi 145,8 juta VND. Langkah serupa diambil oleh Phu Quy Company yang memangkas nilai sebanyak dua kali dengan total akumulasi sebesar 600.000 VND.
Berikut rincian pergerakan nilai emas batangan di beberapa penyedia:
Saigon Jewelry Company
Pembelian: 143,4 juta VND
Penjualan: 146,4 juta VND
ACB
Pembelian: 144 juta VND
Penjualan: 146,5 juta VND
Mi Hong Company
Pembelian: 144 juta VND
Penjualan: 145,8 juta VND
Phu Quy Company
Pembelian: 144 juta VND
Penjualan: 146,4 juta VND
Tidak hanya emas batangan, nilai produk cincin emas ikut mengalami kemerosotan sebesar 500.000 VND per tael. Rekam jejak transaksi di pasar domestik memperlihatkan fluktuasi yang sangat tajam pada sesi penutupan bulan lalu, di mana nilai sempat anjlok hingga 2 juta VND per ounce sebelum akhirnya bergerak pulih. Kendati demikian, selisih nilai domestik masih bertahan sekitar 18,3 juta VND lebih tinggi dibandingkan dengan nilai global yang dikonversi.
Di pasar internasional, komoditas ini melemah lagi sebesar 27 dolar AS per ons ke tingkat 3.981 dolar AS, setelah sebelumnya merosot dari posisi 4.064 dolar AS ke 4.009 dolar AS saat perdagangan di Amerika Serikat berlangsung. Secara keseluruhan, aset ini sudah kehilangan 740 dolar AS dari nilainya dalam jangka waktu 50 hari ke belakang. Koreksi ini dinilai membuka peluang bagi instrumen investasi logam mulia serta saham sektor pertambangan karena otoritas moneter global diprediksi cenderung menahan suku bunga riil demi mengantisipasi krisis utang.
Pergerakan instrumen investasi ini juga dipengaruhi oleh respons pasar terhadap rilis data ketenagakerjaan terkini di Amerika Serikat yang mencatat angka lowongan kerja yang stabil di posisi 7,59 juta. Kondisi pasar tenaga kerja yang dinilai cukup solid tersebut memberikan keleluasaan bagi bank sentral untuk berfokus mengatasi tekanan inflasi melalui opsi pengetatan kebijakan moneter dan sinyal kenaikan suku bunga pada akhir tahun.