DBS Prediksi IHSG Mampu Tembus Level 8.000 pada Akhir Tahun 2026

AA
Aaina Salsa Bila

Editor: Nathasya Zallianty

Rabu, 01 Juli 2026
DBS Prediksi IHSG Mampu Tembus Level 8.000 pada Akhir Tahun 2026
Ilustrasi IHSG, Sumber: publika.

JAKARTA - Analis dari Bank DBS tetap memiliki pandangan positif terhadap pasar saham Indonesia untuk tahun 2026. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan hingga 35,5% sepanjang semester pertama tahun ini, daya tarik pasar dinilai masih kuat berkat valuasi yang murah serta tata kelola saham unggulan yang baik bagi para investor asing.

“Kami sebenarnya memiliki target IHSG akan menyentuh 8.000 dari level terkini, yang jaraknya cukup besar,” ujar Joanne Siew Chin Goh, Senior Investment Strategist Bank DBS, dalam sebuah acara diskusi finansial pada Selasa (30/6/2026).

Pertahanan status Indonesia sebagai Emerging Market dalam tinjauan MSCI bulan ini menjadi elemen krusial yang dapat menyokong pergerakan IHSG hingga penutupan tahun. Senior Economist Bank DBS, Radhika Rao, memproyeksikan status tersebut akan tetap bertahan pada penilaian November mendatang karena otoritas terkait telah mengimplementasikan berbagai pembenahan positif.

“Menurut kami, jika Indonesia masih menyandang status Emerging Market, sentimennya akan berubah positif,” imbuh Joanne. Namun, risiko penurunan kelas menjadi Frontier Market tetap mengintai pada penilaian November nanti apabila pembenahan positif yang berjalan beberapa bulan terakhir ini tidak konsisten atau kurang menunjukkan perkembangan berarti.

Anggota Dewan Komisioner OJK sekaligus Kepala Executif Pengawas Pasar Modal, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa apabila ditemukan ketidakkonsistenan oleh MSCI, Indonesia bakal dimasukkan terlebih dahulu ke dalam Consultation List. Daftar ini berisi negara-negara yang berpeluang mengalami perubahan regulasi atau reklasifikasi pasar.

Di luar itu, pasar modal serta kondisi ekonomi nasional secara umum juga perlu mencermati faktor lain, seperti fluktuasi harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah, meskipun saat ini kondisinya mulai stabil dan harga minyak bergerak turun. Faktor ketiga yang tidak kalah penting adalah perkembangan angka inflasi di dalam negeri.

Merujuk pada data resmi dari otoritas statistik, inflasi inti nasional berada di level 3,08% secara tahunan dan 0,28% secara bulanan pada Mei 2026. Sementara itu, proyeksi konsensus pasar memperkirakan inflasi inti untuk periode Juni 2026 berpotensi naik menjadi 3,2% secara tahunan atau 0,3% secara bulanan.

Guna meredam tekanan inflasi sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) telah mengerek suku bunga acuan sebanyak tiga kali selama tahun 2026. Langkah ini membawa BI Rate menyentuh posisi tertinggi sejak April 2025, yakni sebesar 5,75%. “Ke depannya, kami memperkirakan masih ada satu kali lagi [peningkatan BI Rate],” tambah Joanne.

Joanne tidak menampik bahwa situasi makroekonomi domestik saat ini masih penuh ketidakpastian. Meski demikian, valuasi pasar saham dalam negeri yang cenderung murah menjadi daya pikat utama bagi pemodal internasional.

Sebagai gambaran, hingga 26 Juni lalu, data bursa mencatatkan rasio harga terhadap pendapatan (PER) IHSG berada di level 12,16x, jauh lebih kompetitif dibanding indeks saham Korea Selatan, KOSPI, yang melampaui 20x.

“Beberapa saham big-cap juga memiliki tata kelola yang sangat solid, yang membuat Anda bisa terus berinvestasi,” kata Joanne. Pihaknya menjabarkan tiga sektor potensial di IHSG yang dinilai prospektif, yakni sektor perbankan, telekomunikasi, serta komoditas.

Kenaikan BI Rate diprediksi mampu mendongkrak profitabilitas sejumlah perbankan. Di sisi lain, sektor telekomunikasi akan diuntungkan oleh kuatnya permintaan pasar dan ekspansi jaringan serat optik yang agresif.

Sedangkan sektor komoditas memegang posisi strategis dalam menyokong tren kecerdasan buatan (AI) global karena memasok kebutuhan bahan baku cip hingga sektor energi.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua