Harga Emas Antam 29 Juni 2026 Turun Rp 15.000 Per Gram Jadi Segini

MO
Moch Febrianto

Editor: Nathasya Zallianty

Senin, 29 Juni 2026
Harga Emas Antam 29 Juni 2026 Turun Rp 15.000 Per Gram Jadi Segini
Ilustrasi emas antam (sumber foto: NET)

JAKARTA - Harga emas yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk atau Antam pada Senin, 29 Juni 2026, mengalami penurunan setelah sempat stabil pada hari Minggu kemarin. Nilai komoditas ini merosot hingga Rp 15.000 per gram.

Saat ini, harga emas Antam berada di angka Rp 2.645.000 per gram. Nilai tersebut mengalami penurunan dari perdagangan hari sebelumnya yang mencapai Rp 2.660.000 per gram.

Penurunan yang lebih signifikan terjadi pada harga buyback atau harga beli kembali oleh Antam, yang berkurang sebesar Rp 18.000 menjadi Rp 2.360.000 per gram. Harga buyback merupakan acuan yang digunakan ketika pemilik ingin menjual kembali emas milik mereka kepada Antam.

Sebagai catatan, komoditas ini pernah mencapai rekor tertinggi dalam sejarah pada Kamis, 29 Januari 2026, dengan harga Rp 3.168.000 per gram. Pada saat itu, nilai buyback juga menyentuh angka Rp 2.989.000 per gram.

Berikut daftar harga emas antam terbaru:

Harga emas 0,5 gram: Rp 1.372.500 Harga emas 1 gram: Rp 2.645.000 Harga emas 2 gram: Rp 5.240.000 Harga emas 3 gram: Rp 7.842.000 Harga emas 5 gram: Rp 13.040.000 Harga emas 10 gram: Rp 26.000.000 Harga emas 25 gram: Rp 64.835.000 Harga emas 50 gram: Rp 129.505.000 Harga emas 100 gram: Rp 258.860.000 Harga emas 250 gram: Rp 646.840.000 Harga emas 500 gram: Rp 1.293.400.000 Harga emas 1.000 gram: Rp 2.585.600.000

Sementara itu, pergerakan nilai emas global dan logam mulia diperkirakan masih akan mengalami fluktuasi selama sepekan ke depan. Kondisi ini dipicu oleh berbagai sentimen internasional, seperti situasi geopolitik, dinamika politik di Amerika Serikat, kebijakan dari bank sentral, hingga perang dagang.

Pada penutupan perdagangan Sabtu pagi pekan lalu, harga emas dunia berada pada angka US$ 4.077 per troy ounce, sedangkan logam mulia ditutup pada angka Rp 2.660.000 per gram. Jika terjadi penurunan, nilai komoditas dunia ini berpotensi merosot ke area support US$ 3.786 per troy ounce, dan logam mulia bisa turun ke Rp 2.530.000 per gram.

"Jadi kesimplannya untuk emas dunia dalam sepekan ke depan kemungkinan besar diperdagangkan di support US$ 3.786 per troy ounce, kemudian tertinggi ya resistennya di US$ 4.344 per troy ounce," ujarnya pada Senin, 29 Juni 2026.

Namun, jika terjadi penguatan, emas internasional berpeluang menembus titik resistance hingga US$ 4.344 per troy ounce. Seiring dengan hal itu, nilai logam mulia diproyeksikan akan bergerak pada rentang Rp 2.530.000 hingga Rp 2.750.000 per gram selama pekan depan.

"Kemudian untuk logam mulianya, kemungkinan besar dalam sepekan itu Rp 2.530.000 per gram sampai di Rp 2.750.000 per gram," jelasnya.

Fluktuasi yang terjadi pada pasar internasional dan logam mulia ini masih sangat bergantung pada situasi global. Saat ini, fokus perhatian pasar tertuju pada ketegangan geopolitik, dinamika politik internal Amerika Serikat, kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat, serta potensi meningkatnya perang dagang pada paruh kedua tahun ini.

Dari sektor geopolitik, ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah terjadi insiden penyerangan kapal tanker serta aksi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat. Di samping itu, konflik antara Rusia dan Ukraina masih terus memengaruhi sentimen pada pasar dunia.

Di sisi lain, dinamika politik dalam negeri Amerika Serikat, termasuk peluang Partai Republik di parlemen serta kebijakan perdagangan dari Presiden Donald Trump, turut memberikan dampak pada pergerakan aset internasional. Kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika juga tetap dipantau oleh para investor seiring munculnya indikasi bahwa suku bunga cenderung dipertahankan daripada dinaikkan.

"Apa sih yang membuat harga-harga tadi yang saya sebutkan berfluktuatif? Yang pertama ini adalah masalah geopolitik, kebijakan perpolitikan di Amerika, kemudian kebijakan bank sentral, kemudian perang dagang," tuturnya.

Perpaduan dari berbagai faktor tersebut akan menjadi indikator utama dalam menentukan arah pergerakan harga komoditas dunia serta logam mulia dalam beberapa waktu ke depan, di tengah besarnya ketidakpastian ekonomi dan situasi politik global.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua