Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah ke Rp18.000
JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah diproyeksikan akan mengalami pergerakan yang fluktuatif pada pembukaan perdagangan di awal pekan ini. Kondisi tersebut terjadi di tengah sikap para pelaku pasar yang sedang menunggu pengumuman beberapa data ekonomi krusial, baik dari skala domestik maupun internasional. Berdasarkan data pasar terbaru, mata uang rupiah sebelumnya ditutup dengan penurunan sebesar 0,18 persen dan berada pada posisi Rp17.970 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan lalu.
Seorang analis komoditas menjelaskan bahwa mata uang Garuda sebenarnya memiliki momentum untuk menguat. Hal ini sejalan dengan merosotnya ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Sentimen positif tersebut juga didorong oleh tren penurunan harga minyak mentah dunia yang terus berlanjut, sehingga membuat pelaku pasar memproyeksikan kebijakan moneter Amerika Serikat tidak akan terlalu agresif.
Kendati demikian, fluktuasi diperkirakan masih akan mewarnai pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini. Situasi ini disebabkan oleh kecenderungan para investor untuk bersikap pasif dan menahan diri sebelum data ekonomi utama resmi dipublikasikan. "Investor diperkirakan akan mengambil sikap lebih berhati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun luar negeri," ujarnya.
Dari dalam negeri sendiri, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada beberapa indikator ekonomi makro yang dijadwalkan rilis pada permulaan Juli mendatang. Beberapa di antaranya meliputi indeks manufaktur atau Purchasing Managers' Index (PMI), tingkat inflasi, hingga kondisi neraca perdagangan nasional. Selain data tersebut, pergerakan pasar saham global juga menjadi fokus pemantauan, khususnya volatilitas pada saham sektor teknologi serta kecerdasan buatan yang belakangan ini menjadi motor penggerak sentimen pasar.
Perubahan tren pada saham sektor teknologi ini diperkirakan dapat memengaruhi selera risiko para investor, termasuk arah aliran modal ke pasar negara berkembang seperti Indonesia. Melalui berbagai pertimbangan sentimen tersebut, pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan berada pada rentang Rp17.900 sampai Rp18.000 per dolar AS di awal pekan ini. Sementara itu, seorang direktur perusahaan berjangka menilai bahwa tekanan terhadap mata uang rupiah masih tergolong besar akibat penguatan dolar AS yang disokong oleh performa positif data ekonomi negara tersebut.
Faktor pendorong keperkasaan dolar AS mencakup revisi final produk domestik bruto (PDB) kuartal I Amerika Serikat yang melebihi estimasi, penurunan jumlah klaim pengangguran, serta tingkat inflasi inti yang masih menunjukkan tekanan harga yang tinggi. Kondisi ini memperlebar spekulasi bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan mereka pada tahun ini. Pasar bahkan memperkirakan kenaikan bisa terjadi sebanyak dua kali, yakni pada periode Juli atau September, dan berlanjut pada Desember 2026.
Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut mendorong indeks dolar AS menguat menuju level 102,6, yang pada akhirnya menekan sebagian besar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. "Rupiah berpeluang menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada akhir pekan cukup besar. Penguatan dolar masih didukung oleh data ekonomi Amerika yang relatif solid," kata direktur berjangka tersebut.
Di samping faktor eksternal, indikator ekonomi dari dalam negeri pada awal Juli juga akan terus dicermati. Cadangan devisa Indonesia diperkirakan mengalami penurunan akibat langkah intervensi di pasar valuta asing dan pasar obligasi guna menjaga stabilitas mata uang. Meski demikian, jumlah cadangan devisa domestik dinilai tetap aman karena masih mampu memenuhi kebutuhan pembiayaan impor serta pembayaran utang luar negeri untuk beberapa bulan mendatang.
Pada sektor riil, indeks PMI manufaktur Indonesia diperkirakan masih tertahan di bawah level 50 atau berada dalam zona kontraksi akibat efisiensi kerja dan pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor industri. Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia diproyeksikan tetap mempertahankan posisi surplus, walaupun nilainya diperkirakan menyusut akibat perlambatan ekonomi China sebagai mitra dagang utama. Dinamika defisit anggaran pemerintah juga menjadi poin pengamatan pasar, sebab jika defisit melebar mendekati batas 3 persen dari PDB, hal ini berisiko menjadi tambahan sentimen negatif bagi pergerakan rupiah.